Prof. Dr. Husain Insawan, M.Ag - Rektor IAIN Kendari
Artikel ini merupakan hasil penelusuran data dan informasi tentang pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS yang didapatkan melalui media online dan cetak, kemudian didiskusikan bersama mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam. Artikel ini terhitung sebagai tugas mandiri yang diberikan sekaligus menjadi bentuk apresiasi atas upaya mahasiswa dalam mengamati pergerakan rupiah.
Kondisi IDR pada pembukaan Jumat pagi, IDR menguat sekitar 37 poin (0,20%) ke Rp18.074 per USD dari penutupan sebelumnya Rp18.111. Penguatan berlanjut hingga sore, dan IDR ditutup di Rp18.022 per USD, menguat 89 poin (0,49%) dari hari sebelumnya. Kondisi IDR yang cenderung menguat ini dipengaruhi oleh faktor internal, yakni:
Pertama, adanya putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang mewajibkan anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dipisahkan dari alokasi wajib 20% anggaran pendidikan. Dan ini harus berlaku paling lambat pada penganggaran APBN tahun 2028. Putusan tersebut dinilai oleh pasar sebagai langkah reformasi tata kelola anggaran terkait program premium Presiden Prabowo, sehingga direspon secara positif.
Kedua, adanya sentimen domestik yang distatus quo berkaitan dengan suksesi kepemimpinan di Bank Indonesia. Pada konteks ini, pasar masih bersikap wait and see siapa sesungguhnya sosok Gubernur BI berikutnya yang menggantikan Perry Warjiyo.
Sedangkan faktor eksternal yang turut berpengaruh pada penguatan IDR di hari itu adalah bahwa:
Pertama, adanya pelemahan nilai mata uang dolar AS yang terkoreksi tajam akibat data ekonomi AS yang mengecewakan, sehingga memicu ekspektasi The Fed memangkas suku bunga. The Fed sendiri memutuskan untuk tetap mempertahankan suku bunga acuan. Gubernur The Fed Kevin Warsh menegaskan komitmen pada target inflasi 2%, meski ada perbedaan pendapat internal yang mendesak kenaikan suku bunga karena inflasi masih sticky. Data inti PCE Juni yang lebih rendah dari perkiraan turut meredakan kekhawatiran pasar, walau indeksnya masih di atas target The Fed.
Kedua, faktor komoditas dan geopolitik, di mana harga minyak dunia cenderung turun seiring tanda pemulihan arus lalu lintas di Selat Hormuz, meski ketegangan AS-Israel-Iran di Timur Tengah masih berlangsung.
Penguatan Rupiah ke Rp18.022 disebabkan terutama oleh sentimen global (dolar AS melemah), bukan faktor domestik — dibuktikan mayoritas mata uang Asia lain juga menguat, seperti Yuan China (+0,06%), Peso Filipina (+0,50%), Ringgit Malaysia (+0,06%). Sebaliknya dolar Singapura, Yen Jepang, dan Won Korea Selatan melemah. Putusan MK soal MBG berperan sebagai sentimen positif tambahan dari dalam negeri, sehingga memperkuat penguatan yang sudah didorong faktor eksternal.
Wallahu a’lam bi al-shawab