Prof. Dr. Husain Insawan, M.Ag - Rektor IAIN Kendari
Dalam kesempatan acara peluncuran sejumlah buku-buku karya Prof. Nasar yang dibingkai Celebration of Harmony, beliau menyampaikan kajian segar dan menggelitik pemikiran akademis kita.
Pertama, Prof. Nasar menyampaikan bahwa manusia, terutama mereka yang disibukkan dengan berbagai pekerjaan dan kesibukan duniawi (GO OUT) seolah tiada hentinya, maka hendaknya jeda sejenak untuk melakukan GO IN (kontemplasi) dan mengintrospeksi diri sembari memikirkan langkah strategis penting lainnya yang akan diambil ke depan.
Kedua, selaku bangsa yang heterogen baik dari segi agama, etnis, budaya, dan aliran diperlukan tidak hanya TOLERANSI (kesalingmengertian), tetapi juga UNITY (penyatuan). Toleransi dipahami seolah ada yang berbeda di antara manusia, tetapi bila yang terjadi adalah penyatuan, maka sejatinya tidak ada perbedaan. Tidak ada diksi “Saya” dan “Kamu” tetapi yang ada hanyalah “Kita”. Diksi “ke-Kita-an” kita inilah secara bersama disebut penyatuan. Bukan perbedaan yang ditonjolkan tetapi kesamaan yang dikedepankan. Tidak boleh ada paksaan dalam heterogenitas. Menyatukan yang berbeda bisa dipandang liberal dan membedakan yang sama tergolong radikal.
Ketiga, semangat penyatuan kita mesti dipupuk dan dilestarikan secara berkelanjutan tanpa mengenal ruang dan waktu. Kita berbeda, bukan karena heterogenitas agama dan kepercayaan, tetapi mungkin karena kita belum memahami subtansi THE RELIGION, bukan A RELIGION. Setiap A Religion, pasti ada The Religion. A Religion bersifat parsial, sedangkan The Religion bersifat universal. Hal ini identik dengan diksi AL-DIN dan AL-MILLAH. Al-Din merupakan sistem dan aturan hidup yang bersifat konprehensif mencakup ibadah, syariah, akhlak dll. Sedangkan Al-Millah hanyalah sebuah ajaran pada komunitas tertentu. Jadi lebih bersifat terbatas.
Keempat, bila sudah memahami The Religion dan Al-Din, maka kita tidak akan memandang di luar kita sebagai “yang lain”. Kita perlu memahami bahwa dalam penamaan dan peristilahan, sejatinya tidak banyak terjadi perbedaan. Misalnya, di sini kita menyebut Isa, di sana menyebutnya Yesus; kita menyebut Musa, mereka menyebut Moses; kita menyebut Yunus, mereka menyebut Jonas; kita menamakan Ibrahim, mereka menamakan Abraham; kita memanggilnya Daud, mereka memanggilnya David; kita menyerukan Yusuf, mereka menyerukan Yosep; kita meggelarinya Adam, mereka juga Adam; kita menyebut Hawa, mereka menyebut Eva: kita mengisahkan Sulaiman, mereka mengisahkan Salomon; kita menceritakan Mikail, mereka menceritakan Michael; kita menerangkan peran Jibril, mereka menerangkan peran Gabriel, dll.
Kelima, agama memiliki kekuatan tertentu, yang dalam term fisika disebut Sentrifugal, pemecah, yang menjauh dari pusat, berhadapan dengan gaya Sentripetal, penyatu, yang bergerak menuju titik pusat atau kesamaan. Kita mesti mengkampayekan gaya Sentripetal dari agama, bukan gaya Sentrifugal, sehingga unity akan terbangun dengan sendirinya.
Keenam, manusia merupakan makhluk yang selalu belajar, meneliti, menulis, berhitung, dan membaca. Tetapi membaca mesti disertai dengan penyadaran akan Sang Khalik. Kalimat “Iqra bismi rabbik” menandakan bahwa ilmu harus dipandu dengan wahyu agar tidak salah arah. Tidak hanya sekedar “iqra bi Ilmi” karena jika “iqra bi Ilmi” saja, tanpa “bismi rabbik” maka manusia akan tampak kelakuannya seperti “monster”
Ketujuh, kita biasa mendengar istilah “Tazkiyah”. Mufradat ini sesungguhnya bermakna bersih, tapi hanya secara batin saja. Sedangkan “Nadzafah” bermakna bersih tetapi secara lahiriah. Yang paling meliputi keduanya adalah “Thaharah” yang mencakup kebersihan, tidak hanya secara lahir saja, tetapi juga secara batin.
Wallahu a’lam bi al-shawab