-BENAK REKTOR-

NEWCOMERS UINRI 2)

Dipublish Tanggal 22 August 2026 Pukul 23:40 Prof. Dr. Husain Insawan, M.Ag - Rektor IAIN Kendari

Kedelapan, Newcomers harus menjaga etika kepada dosen. Newcomers senantiasa memperhatikan tata krama berkomunikasi dengan dosen. Ketika mahasiswa hendak berkonsultasi tentang urusan akademik maka seorang mahasiswa harus mengetahui bagaimana tata cara berkomunikasi dengan dosen. Misalnya, ketika mahasiswa ingin menghubungi dosen melalui ponsel/gadget, mahasiswa harus menchat dulu dosennya dengan kalimat yang sopan. Begitu pula pada saat menelpon, seorang mahasiswa harus memperhatikan etika berkomunikasi. Paling tidak mahasiswa harus mengawalinya dengan salam, permohonan maaf sebagai pertanda merendah di hadapan dosen, lalu secara berhati-hati mengemukakan maksud anda menelpon atau menchat. Kalau pesannya sudah sampai dan dimengerti oleh dosen, maka akhiri dengan permohonan maaf lagi dan salam. Gunakanlah kalimat yang sopan dan  sama sekali tidak menyinggung perasaan dosen yang bersangkutan. Kurang lebih seperti itu adab berkomunikasi dengan dosen. Yang perlu pula diperhatikan bahwa mahasiswa harus menjaga jarak dengan dosen. Demikian pula sebaliknya dosen jangan terlalu dekat dengan mahasiswa untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Urusan akademik sebaiknya diselesaikan di kampus. Kecuali ada izin dari dosen bahwa konsultasi bisa dilakukan di rumah dosen, maka dipersilahkan sepanjang tidak ada rencana negatif lain. Tetapi sedapat mungkin konsultasi masalah akademik dilakukan di kampus secara tuntas. Hal ini untuk mengantisipasi terjadinya hubungan yang tidak layak di antara keduanya. Sepanjang pergaulan di kampus, mahasiswa juga harus berkomunikasi secara santun dan penuh penghormatan kepada dosen sebagai orang yang berilmu dan bertanggungjawab untuk mengajar,  mendidik, dan melatih mahasiswa. Maka sepantasnyalah bila mahasiswa menghormati dosennya. Sebaliknya pula dosen harus menjaga etika berkomunikasi dengan mahasiswa. Pandanglah mahasiswa sebagai anak-anak dari dosennya. Jangan berpikiran lain, selain bahwa mereka adalah insan yang membutuhkan ilmu pengetahuan dan keteladanan dari dosen. Jangan arahkan mahasiswa untuk melakukan tindakan inkonsistensi kepada dosen lain atau kepada lembaga kampus. Hal ini akan bisa melahirkan prasangka negatif dari mahasiswa. Dosen tidak boleh sekali-kali memanfaatkan mahasiswa untuk melakukan sesuatu yang menjadi tujuan dosen yang bersangkutan. Bila ini yang terjadi maka akan melahirkan sistem patron clien antara dosen dengan mahasiswa. Sekaligus dosen mempertontonkan relasi kuasa atas mahasiswanya.

 

Kesembilan, Newcomers sedapat mungkin melibatkan diri dalam organisasi. Waktu dan kesempatan mahasiswa sangat luang, sehingga ini bisa dimanfaatkan untuk mengikuti aktivitas organisasi. Organisasi boleh dalam bentuk intra universiter dan bisa juga dalam bentuk ekstra universiter. Bergabung dan aktif dalam organisasi intra universiter seperti Senat Mahasiswa, Dewan Mahasiswa, UKK, UKM, dan Himpunan Mahasiswa Program Studi. Demikian pula pada organisasi ekstra universiter, seperti Himpunan Mahasiswa Islam, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, atau organisasi ekstra lainnya. Terbuka peluang lebar bagi mahasiswa untuk mengekspresikan diri dalam rangka pengembangan individu mahasiswa. Amat rugi rasanya bila waktu yang tersedia tidak dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk berorganisasi. Pengalaman berorganisasi akan mengkader mahasiswa dan membawanya pada kecerdasan berpikir dan kematangan emosional dalam memimpin lembaga atau institusi yang akan dipimpinnya nanti di kemudian hari. Namun yang perlu diingat bahwa ketika sesudah bergabung pada sebuah lembaga kemahasiswaan maka mahasiswa tidak boleh larut dalam aktivitas organisasi tersebut hingga melupakan perkuliahan dan tidak menyelesaikannya sesuai waktu studi yang ditetapkan. Tidak sedikit mahasiswa yang terjebak dalam kegiatan organisasi lalu melupakan tugas utamanya sebagai mahasiswa, yakni kuliah dan menyelesaikan studinya di kampus. Tetapi juga sangat banyak aktivis mahasiswa yang dapat menyelesaikan studi secara tepat waktu, bahkan menorehkan prestasi akademik yang mengagumkan. Kondisi seperti inilah sejatinya yang diharapkan oleh orang tua dan kampus sebagai tempat menempuh pendidikan. Mahasiswa boleh berorganisasi tetapi kesarjanaan juga harus bisa direngkuh tepat waktu. Jangan sampai menjadi mahasiswa paling lama tinggal di kampus. 

 

Kesepuluh, Newcomers nantinya nantinya jika sudah cukup dewasa harus mampu membangun jejaring. Seorang mahasiswa ketika masih berstatus sebagai mahasiswa sedapat mungkin bida membangun jejaring atau networking, baik secara personal maupun institusional. Biasanya rajutan networking itu terjadi pada saat mahasiswa menjadi aktivis organisasi intra maupun ekstra kampus. Networkingnya pun dapat dilakukan secara internal dan eksternal perguruan tinggi. Hal ini menjadk penting karena ketika mahasiwa sudah menyelesaikan studinya maka biasanya sudah harus berkiprah pada institusi formal atau non formal. Orang-orang yang dijadikan sebagai subyek networking tadi adalah mereka yang sudah menjabat pada posisi tertentu sehingga hal tersebut bisa menjadi pintu masuk untuk ikut bergabung pada lembaga yang dipimpin subjek networking tersebut. Demikian pula pada saat mahasiswa ke depan menjadi seorang pejabat, maka networking yang sudah dirajut bisa digunakan untuk mengembangkan lembaga yang dipimpin. Sangat banyak manfaat lain yang didapatkan apabila mahasiswa mampu membangun jejaring sejak awal. Akuntabilitas dan transparansi menjadi modal awal dalam membangun networking. 

 

Kesebelas, Newcomers harus membentuk dirinya bermental tangguh. Menjalani kehidupan akademik di kampus membutuhkan mental yang kuat. Mahasiswa tidak boleh cengeng. Proses pendidikan, pengajaran, dan pembimbingan merupakan wahana untuk melatih mahasiswa agar bermental baja. Tidak ada kata menyerah. Tidak mudah goyah hanya karena tempaan dari dosen. Semua proses akademik harus dijalankan dan dilewati dengan penuh semangat dan tanpa beban. Mahasiswa jangan merasa terbebani ketika dosen menerima tugas untuk diselesaikan. Justru tugas yang diberikan menjadi sarana untuk mengajar dan mendidik diri sendiri agar dewasa dalam menyikapi setiap persoalan. Rutinitas seperti ini mesti dicanangkan dalam hati dan pikiran mahasiswa sehingga tidak muncul sikap apriori dan cuek terhadap tugas-tugas akademik yang diembannya. Akan muncul utilitas multiplier effect pada diri pribadi mahasiswa. Yang kelak di kemudian hari akan dirasakan secara langsung manfaatnya oleh mahasiwa. Dan ini menjadi sebuah memori yang tidak akan pernah terlupakan. Sekaligus menjadi bahan pengalaman untuk diceritakan kepada anak-anak mereka nantinya sebagai motivasi bahwa ayah dan ibunya dulu pernah merasakan bagaimana hidup bermahasiswa dan menjalani kehidupan akademik di kampus. Dengan begitu maka mahasiswa akan termotivasi dan siap menggembleng dirinya untuk bermental baja dan menyalakan semangat yang tak pernah padam.

 

Keduabelas, Newcomers harus mampu beradaptasi dengan lingkungannya. Mahasiswa ketika sudah masuk ke dunia kampus, maka lokus interaksi yang akan ditemukan adalah lingkungan akademik di dalam kampus dan lingkungan sosial di luar kampus. Mahasiswa tidak selamanya dua puluh empat jam berada di kampus. Tetapi selalu pula akan terlibat pada interaksi dengan lingkungan sosial, baik di lingkungan asrama maupun di luar asrama. Situasi dan kondisi yang terjadi di kampus akan berbeda dengan di luar kampus. Maka itu diperlukan adaptasi yang cepat dari seorang mahasiswa. Bila mahasiswa tidak mampu beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya, maka mahasiswa tersebut akan terkucil dan teralienasi dari kehidupan sosial. Mahasiswa tidak akan mampu memahami bagaimana psikologi sosial karena tidak ikut terlibat di dalamnya. Tidak bisa bekerjasama dengan orang lain karena tidak pernah dipraktikkan sebelumnya. Apalagi saat ini telah terjadi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi yang mendera manusia, sehingga amat sulit untuk dihindari. Oleh karena itu, diperlukan quick adaptation dari mahasiswa agar tidak diklaim sebagai mahasiswa kurang pergaulan alias kuper atau mahasiswa kurang adaptasi alias kurap. 

 

Ketigabelas, Newcomers harus menjadi pribadi yang berintegritas. Mahasiswa tidak hanya dituntut untuk menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga yang terpenting adalah harus memiliki integritas yang tinggi dan bisa diandalkan. Integritas identik dengan makna seperti kejujuran, akuntabel, transparan, adil, mandiri, disiplin, berani, loyal, mampu menjaga rahasia, dan berbagai istilah yang sejenis dengan itu. Mahasiswa harus memiliki integritas yang tinggi. Ilmu boleh tinggi tetapi integritas tidak boleh diabaikan. Ilmu tanpa integritas akan salah arah. Sebaliknya integritas tanpa ilmu akan menjadi pincang. Ilmu dan integritas harus berjalan seiring. Berjalin berkelindan dan tidak menafikan satu sama lain. Bila ini yang terjadi maka akan lahir mahasiswa plus yang tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki integritas yang mengagumkan. Ilmu pengetahuan merupakan hard competence, sedang integritas adalah soft competence. Wujud ilmu pengetahuan adalah hard skill, tetapi integritas adalah soft skillnya. Yang diutamakan dalam dunia kerja saat ini yakni soft skill, baru kemudian menyusul hard skill. Tidak semua orang memiliki integritas atau soft skill ini. Orang pintar banyak, tetapi amat sedikit yang berintegritas. Integritas sangat dibutuhkan dalam kehidupan profesi. Apalagi dalam memimpin perusahaan atau instansi pemerintah dan swasta. Orang kurang berpengetahuan bisa diajar, tetapi orang yang tidak berintegritas sulit untuk dididik. Hancur atau gagalnya perusahaan atau instansi biasanya terjadi karena kurangnya integritas dari manusia yang menjalankannya. Tetapi keberhasilan dan prestasi yang membanggakan dari sebuah perusahaan atau instansi selalu lahir dari mereka yang memiliki integritas tinggi dan andal.

 

Keempatbelas, Newcomers harus senantiasa  berdampak. Hadirnya mahasiswa dalam berbagai gelanggang akademik dan sosial harus mampu memberikan dampak positif. Apa artinya menjadi mahasiswa kalau kemudian kehadirannya tidak memberikan warna. Ada atau tidak ada mahasiswa sama saja. “Wujuduhu ka adamihi”. Dia ada tidak menggenapkan dan ketika tidak ada pun tidak mengganjilkan. Kiprah mahasiswa sangat dinantikan di masyarakat. Begitupula di kampus sangat diharapkan mampu mengukir prestasi yang memberikan dampak positif bagi lembaga. Dia tidak menjadi parasit di kampus dan masyarakat. Peran mahasiwa sangat diharapkan untuk memberikan edukasi positif dan pendampingan kepada yuniornya dan masyarakat. Apalagi bila mahasiswa turun ber-KKN harus benar-benar memberikan dampak nyata di pedesaan dimana lokus ia ditempatkan. Tidak kemudian menjadi sumber keonaran atau menjadi provokator yang tidak berdasar di masyarakat atau di kampus. Oleh karena itu, menjadi mahasiwa memang cukup berat peran dan tantangan yang dihadapi. Sesaat setelah dilantik sebagai mahasiswa definitif UINRI, maka Newcomers sudah harus memiliki peta jalan (road map) yang tersusun dengan rapi. Kapan harus memulai dan kapan selesai. Pada semester berapa harus magang, KKN, menyusun proposal, ujian konprehensif dan munaqasyah. Kapan harus terjun ke masyarakat untuk menyelesaikan berbagai problematik sosial yang mendera masyarakat. Ini semua harus menjadi agenda rapi dari seorang Newcomers.(*)

Baca Juga :