Prof. Dr. Husain Insawan, M.Ag - Rektor IAIN Kendari
Selat Hormus kembali disegel oleh Iran sebagai reaksi terhadap serangan AS terhadap kapal milik Iran. Sepanjang ini Iran hanya menerapkan taktik defensif. Bila ia diserang maka akan melakukan serangan balasan serupa. Artinya tindakan ofensif yang dilakukan Iran masih cukup membatasi diri ketimbang Israel yang melakukan serangan membabi-buta dengan menyasar fasilitas militer Iran berikut rakyat sipil, tidak terkecuali perempuan dan anak-anak.
Di samping itu, ketika Iran diserang maka Iran akan melakukan pembalasan dengan menyerang pangkalan-pangkalan udara AS yang berada di negara-negara teluk. Taktik ini memberikan tekanan ganda bagi AS, yakni di satu sisi, serangan Iran terhadap fasilitas perang AS mampu meruntuhkan moral bagi para prajurit dan mendapatkan tekanan kuat dari internal negaranya, dan di sisi lain AS akan mendapatkan tekanan dari rakyat dan negara-negara proxinya yang bertengger di kawasan teluk.
Dampak yang ditimbulkan akibat dari disegelnya Selat Hormus tentu adalah melambungnya harga minyak. Sebelumnya harga minyak cukup kompetitif di level aman setelah penandatanganan perjanjian damai AS-Iran, meski Israel menyatakan diri tidak terlibat dan tidak terikat sama sekali dengan isi perjanjian yang diteken Trump itu, seperti yang dikilahkan oleh Netanyahu.
Berdasarkan analisis dan prediksi para pakar hubungan internasional bahwa konflik AS-Iran masih akan berlangsung cukup lama mengingat kesepakatan damai belum benar-benar berjalan seperti yang diharapkan karena AS selalu mengkhianati perjanjian tersebut. Bahkan sesaat setelah penandatangan perjanjian damai, Israel yang menjadi sekutu abadi AS menyerang Lebanon dengan rudal dan menimbulkan kerusakan berat dan kerugian besar dalam negeri Lebanon.
Memang konflik masih akan berlangsung, terutama Israel yang tidak menginginkan kemedekaan Palestina. Mereka menyerang Gaza habis-habisan untuk memperluas wilayah kekuasaan guna mewujudkan Israel Raya seperti yang dicita-citakan kaum Zionis. Apalagi saat ini, Israel dikuasai oleh faksi beridiologi “Kanan” yang sangat anti kepada Palestina.
Pada pihak lain, Trump hendak memulihkan kepercayaan publik AS atas langkah kesepakatan damai yang “ditentang” oleh publik AS dengan segera membombardir kapal Iran di Selat Hormus. Hal ini menunjukan betapa rapuhnya perjanjian itu. Terkesan perjanjian hanyalah permainan kata di atas kertas. Sulit untuk menemukan kata sepakat di benak Trump.
Dari semua sengkarut yang terjadi maka timbul dampak yang merisaukan dunia, yakni langkanya ketersediaan minyak dalam negeri di berbagai belahan dunia. Pun termasuk Indonesia. Negara sudah mengambil berbagai langkah untuk bisa memenuhi kebutuhan minyak dalam negeri dengan melakukan penghematan anggaran dan teranyar adalah mengambil pajak dari masyarakat melalui sweeping untuk memastikan bahwa rakyat benar-benar membayar pajak.
Meski menimbulkan pro dan kontra mengenai masalah tersebut, namun inilah salah satu langkah yang diambil pemerintah untuk mengedukasi masyarakat agar taat membayar pajak. Sebenarnya tidak masalah bagi masyarakat bila pajak ditarik dengan cara seperti itu, namun hasil penarikan pajak itu memang benar-benar digunakan untuk membeli dan membiayai berbagai kebutuhan masyarakat. Tidak untuk dikorupsi atau digunakan untuk flexing yang dapat menimbulkan kemarahan rakyat. Masyarakat Indonesia masih memiliki jiwa nasionalisme dan patriotisme untuk mengeluarkan negara dari himpitan krisis energi, tapi dengan catatan ada komitmen bersama untuk membantu dan menyelamatkan negara.
Masalah besar yang dihadapi dalam beberapa hari ke depan adalah krisis energi yang melanda Indonesia. Apakah dengan adanya krisis ini, membuat Indonesia akan berpangku tangan? Tentu jawabannya “tidak”. Pemerintah sudah mengantisipasi dampak krisis energi yang ditimbulkan akibat konflik dan perang yang berkepanjangan itu. Lantas langkah konkret apa yang ditawarkan pemerintah sebagai solusi atas krisis energi yang mendera kita. Jawabannya adalah “BIO-ENERGI”.
Produk Bio-energi yang dikembangkan Indonesia dipandang dapat menyelamatkan negara dari krisis energi, di saat banyak negara nyaris kolaps akibat kurangnya pasokan minyak untuk menggerakkan mesin-mesin. Sementara Indonesia tidak demikian. Bio-energi menjadi solusi bagi Indonesia untuk keluar dari krisis energi yang mendera. Lalu dari mana sumber Bio-energi ini didapatkan? Tentu berasal dari tumbuhan bernilai komoditas tinggi yang diandalkan oleh pemerintah, yakni dari kepala sawit. Komoditas kelapa sawit menjadi barang komoditas yang sangat dicari saat ini. Sebab komoditas ini dipandang menjadi sumber energi alternatif yang bisa diandalkan. Maka itu pemerintah Indonesia mulai memproduksi bahan bakar minyak yang bersumber dari CPO kelapa sawit. Biarkan negara lain berperang untuk memperebutkan minyak, tetapi dalam negeri Indonesia tidak boleh kekurangan minyak. Di bulan Juli-Agustus nanti Indonesia akan meluncurkan produk bahan bakar minyak berbasis kelapa sawit yang dinamai B-50.
Menjadikan kelapa sawit sebagai sumber Bio-energi bukanlah pekerjaan mudah. Petani sudah bersusah payah untuk menanam dan menghasilkan produk, tetapi harga dari produk tersebut yang terkesan belum terlalu kompetitif karena harga masih ditentukan oleh WTO. Problem krusial yang muncul kemudian jauh lebih bersifat politinomics. WTO tentu tidak akan membiarkan Indonesia memainkan peran besar dalam kendali harga kelapa sawit karena dinilai akan lebih menguatkan posisi Indonesia dalam monopoli energi alternatif yang bersumber dari CPO kelapa sawit.
Dan paling anyar bahwa stelah menunggu hampir 30 tahun Presiden Prabowo resmi meluncurkan Proyek Strategis Nasional LNG Abadi Masela. Pemerintah dan rakyat berharap bahwa proyek ini dapat memperkuat ketahanan energi nasional, dapat menarik investasi negara, dan membuka lapangan kerja bagi masyarakat, serta menjadi salah satu fondasi menuju ketahanan energi Nasional dan memupus kebergantungan pada sumber energi asing.
Pemerintahan Prabowo-Gibran tidak boleh dikatakan kurang peka terhadap masalah yang melilit rakyat karena mereka sudah berusaha untuk memenuhi kebutuhan pokok rakyat terutama pangan dan energi. Keduanya sangat penting. Pangan menjadi bahan konsumsi manusia dan energi menjadi bahan konsumsi non manusia, dalam hal ini mesin-mesin yang menjadi sarana kerja manusia untuk menghasilkan barang kebutuhan vital masyarakat.
Dan paling anyar bahwa setelah menunggu hampir 30 tahun Presiden Prabowo resmi meluncurkan Proyek Strategis Nasional LNG Abadi Masela. Ini menunjukan bahwa pemerintah bersungguh-sungguh untuk mengatasi krisis energi dalam negeri guna mendorong perputaran perekonomian masyarakat dan negara.
Wallahu a’lam bi al-shawab