-BENAK REKTOR-

SATU HAL PENTING DARI AGREEMENT RECIPROCAL TRADE

Dipublish Tanggal 28 February 2026 Pukul 07:09 Prof. Dr. Husain Insawan, M.Ag - Rektor IAIN Kendari



Mungkin publik kurang menelisik ke dalam tentang agenda Agreement Reciprocal Trade (ART). Perjanjian Dagang yang saling Menguntungkan antara Indonesia dan Amerika. Prabowo sebagai Presiden Indonesia dan Donald J. Trump selaku Presiden Amerika saling membubuhkan tanda tangan di atas kertas bermaterai. Agenda maha penting dalam perspektif kami ini, sangat dibutuhkan oleh masyarakat dan negara. Apabila agenda ini tidak tercakup dalam ART, maka “setengah kiamat” akan dirasakan. Apa jadinya negara ini ke depan. Kemungkinan prahara akan selalu mengintai. Agenda apakah gerakan sehingga kesannya amat sangat krusial. Tidak lain dan tidak bukan adalah perlindungan data pribadi dan data negara. 

Persoalan data merupakan persoalan fundamental. Keberadaannya harus dijaga dengan aman. Data kita secara sistemik hari ini sangat urgen untuk diproteksi. Apa artinya kekuatan sebuah negara bila datanya mudah dibobol oleh kekuatan eksternal. Sementara kekuatan sebuah negara saat ini diukur dengan seberapa kuat ia memproteksi datanya. Sebuah Negara akan mudah diobrak-abrik oleh pihak lain bila datanya tidak terproteksi. Kekuatan eksternal yang bisa membobol data kita bisa dalam bentuk person, institusi, atau negara asing. Akibatnya identitas pribadi dan rahasia negara bisa terakses sedemikian rupa oleh pihak lain. 

Lalu di manakah letak imunitas pertahanan data nasional kita. Apalagi Indonesia merupakan negara kepulauan yang terpisah-pisah antar pulau. Indonesia pada akhirnya akan mudah nantinya terokupasi dan terproxi oleh kekuatan luar yang sejak awal mengetahui peta kekuatan negara kita melalui data yang didapat bersumber dari internet. Mereka dengan mudah masuk lewat jalur internet, website, atau sistem digital lainnya. Original platform digital ini hanya ada pada mereka. Kepunyaan mereka secara mutlak. Indonesia hanya menjadi negara konsumen saja. Bukan sebagai perancang. Apalagi menjadi pemilik sah. 

Indonesia belum memiliki rancangan sendiri mengenai sistem internet yang mandiri dan dikendalikan langsung oleh negara. Jadi internet yang digunakan masyarakat dan negara selama ini hanyalah sewaan belaka kepada negara vendor secara terus menerus, terutama kepada Amerika tanpa ada upaya gigih untuk membangun sendiri kekuatan internet kita. Sebut saja Amazon dan Microsoft milik Amerika. Kita banyak bergantung pada platform yang mereka buat tersebut. 

Apakah SDM Indonesia belum mampu untuk membangun internet sendiri. Jawabannya tidak, kita tentu mampu dan memiliki SDM handal untuk membanyun kemandirian data dan internet kita. Namun political will dari penyelenggara negara yang belum dipunyai. Misi komersialisasi masih dinilai cukup tinggi. Segelintir pejabat masih “ditengarai” memanfaatkan momentum ini guna mendapatkan keuntungan. Walhasil kita hanya menjadi negara pemakai internet dunia secara berkelanjutan. Kita terninabobokan dengan kemanjaan menyewa. Kita tidak mau belajar pada India yang sudah memiliki kemandirian internet. Mereka merancang sistem internetnya sendiri tanpa harus bergantung pada negara lain. Data mereka pada akhirnya aman-aman saja. Tanpa ada serangan hacker asing. Berbeda dengan Indonesia yang dalam beberapa episode digempur oleh para hacker dunia. Kasus Byorka, pembobolan sistem internet BSI, bocornya dokumen negara era SBY dan Jokowi, sudah cukup menjadi pelajaran penting bagi kita semua betapa keamanan data internet sangat dibutuhkan.  

Data kita selama ini sangat “telanjang” di mata dunia luar, sehingga apa yang dimiliki Indonesia pasti akan mudah terakses oleh pihak luar. Data kita kerap kali diperjualbelikan di pasar-pasar gelap tanpa kita ketahui. Kita asyik makan-minum di restoran, tidur di spring bed hotel, ngobrol di kafe dengan teman, mendengarkan musik melankolis sambil mengawangkan pikiran, berwisata alam di Rinjani misalnya, tapi kita tidak sadar, padahal data kita sudah laku dijual di pasar gelap untuk dimanfaatkan guna kepentingan tertentu. Tanpa diketahui, data kita sudah berpindah tangan beberapa kali di antara para pihak yang tidak bertanggung jawab. Tanpa dinyana, para pihak sudah mendapatkan keuntungan berlipat ganda dari hasil transaksi bisnis data yang dilakukan. 

Atas argumentasi inilah menjadi latar belakang dan keprihatinan mengapa kemudian Presiden Prabowo berkenan menandatangani ART bersama Presiden Donal J. Trump. Tidak lain hanyalah ingin menjaga kedaulatan data negara dan masyarakat Indonesia yang selama ini mudah tercabik-cabik oleh pihak lain. 

ART ini sangat bermanfaat terutama bagi negara. Bila tidak ada perjanjian ini, maka sulit untuk mengajukan keberatan dan penuntutan kepada Amerika atau ke Mahkamah Internasional manakala terjadi pembobolan data karena tidak ada dasar hukum yang kuat yang bisa dijadikan pegangan. Nah, dengan Sign ATR together  ini, maka dengan mudah sanggahan dan keberatan bisa kita ajukan dalam kerangka melindungi integritas data negara dan rakyat Indonesia. Langkah ini tidak mudah dilakukan karena untuk menjinakkan dan menggiring Trump ke arah perjanjian butuh waktu untuk meyakinkannya. Mumpung ada momentum pembentukan Board of Peace, maka Indonesia masuk dan agenda pengamanan data bisa disisipkan ke dalam pakta perjanjian dan itu disetujui oleh pihak Amerika. 

Mengapa harus dengan Amerika? karena Amerikalah kiblat nomor wahid  internet dunia sekarang ini. Amerika yang memiliki kemampuan untuk meretas data pribadi dan negara di dunia. Tidak terkecuali Indonesia. Meskipun juga ada pihak lain yang pernah membobol data Indonesia seperti hacker dari Rusia beberapa waktu lalu atau kasus ransomware. Namun yang paling menonjol dari semua negara tersebut adalah Amerika. Jadi menjalin kerjasama dengan Amerika hari ini sangatlah penting untuk mengamankan agenda digital, ekonomi, dan politik kita. 

Amerika jangan juga dimusuhi secara beramai-ramai karena masih ada kepentingan kita di sana. Mari berdiplomasi secara soft, mumpung mitra strategis kita juga mau menyambut dengan tangan terbuka keinginan kita. Maka bekerjasamalah secara baik dan saling menguntungkan demi rakyat dan negara Indonesia yang kita cintai. Bravo Prabowo. Hebat Presiden kita.(*)

Baca Juga :