-BENAK REKTOR-

MEMAINSTREAMING “STREAMS” SEBAGAI THE FUTURE PARADIGM PENDIDIKAN ISLAM

Dipublish Tanggal 30 December 2025 Pukul 13:26 Prof. Dr. Husain Insawan, M.Ag - Rektor IAIN Kendari

Lembaga pendidikan Islam optimis mampu merespon segala perkembanga dan kecenderungan zaman yang terjadi dan bakal nyata. Lembaga pendidikan Islam mulai dari tingkat dasar, menengah, hingga pendidikan tinggi tidak boleh kehilangan arah dan elan vitalnya dalam mencermati situasi dan kondisi era disrupsi saat ini dan ke depan. Lembaga pendidikan Islam mesti mengkaji dan mempersiapkan diri untuk menghadapi itu semua. 

Dalam konteks inilah The Future Studies diperlukan. The Future Studies diperlukan dalam pemikiran pendidikan Islam yang memandang jauh ke depan (future thinking) dan juga cara berpikir melompat (quantum thinking) yang melebihi zaman now; kemampuan untuk menyiapkan skenario pendidikan Islam secara khusus yang disusun untuk mengantisipasi apa yang bakal terjadi ke depan, sehingga kita tidak kehilangan momentum dan berperan pada titik sentral; mampu menetapkan isu-isu yang penting untuk diketengahkan sebagai penyeimbang atau counter terhadap perubahan yang kompleks; kemampuan membaca trend yang berkembang dan selalu berubah dengan cepat; serta pandai memainkan seni probabilitas yang bersifat elastis dalam menghadapi konteks dan kebijakan yang terevisi, teraddendum, atau bahkan tereliminasi dengan segera. 

Road map seperti ini pun digunakan oleh para Futurolog sekelas Alfin Toffler yang mencuat lewat magnum opusnya bertajuk “Future Shock” (1970) dan “The Third Wave” (1980) atau John Naisbitt dan istrinya Patricia Aburdene via grand master piece-nya “Megatrends 2000” (1990) yang diawali dengan karya sebelumnya “Megatrends: Ten New Directions Transforming Our Lives” (1982), dan diakhiri dengan buku “The Value Advantage” (2004) dan “Mind Sets!” (2006). Mereka adalah sebentang ahli Futurologi di zamannya yang telah membuka jalan melempang bagi para cerdik-cendekia Muslim kontemporer guna memajukan lembaga pendidikan Islam di era disrupsi kini dan super modern ke depan. 

Untuk menghadapi agenda ini, lembaga pendidikan Islam mesti menyiapkan strategi  adaptasi dan antisipasi yang cepat dan tepat. Pengembangan paradigma lembaga pendidikan Islam ke depan harus meniscayakan apa yang disebut sebagai STREAMS. Sejenis apakah STREAMS itu? Ia merupakan akronim dari Science, Technology, Religion, Engineering, Art, Mathematic, and Sport. Lembaga pendidikan Islam, terutama PTKIN wajib menjawabnya secara bijak. Langkah yang bisa dilakukan secara formal akademik adalah dengan membuka fakultas, prodi, atau konsentrasi yang mengarah pada STEAMS ini; menyiapkan sumber daya manusia; serta fasilitas memadai yang dibutuhkan fakultas dan prodi. 

STEAMS tanpa “R” mengapa? karena Religion sudah secara otomatis menjadi bagian yang dikaji dan dikembangkan di ranah PTKIN. Inisial “R” nanti akan menjadi nafas dari STEAMS. Landasan spiritual, etik, atau syariah dari STEAMS. Tetapi senyatanya, STEAMS secara pure masih sangat minim saat ini, untuk tidak mengatakan belum ada sama sekali di mayoritas PTKIN. STEAMS seolah belum menjadi konsern sebagian besar PTKIN. Fakultas, prodi, atau konsentrasi STEAMS masih minim ditemukan di PTKIN. Belum lagi diperhadapkan dengan syarat dan prosedur yang panjang dan membutuhkan banyak energi untuk menilai kelayakan pembukaan fakultas atau prodi dimaksud. Mendirikan fakultas dan prodi STEAMS ini menjadi keniscayaan dengan terlebih dulu mentransformasikan STAIN/IAIN menjadi UIN. Dengan UIN dipandang tepat untuk mewadahi STEAMS ini. 

Oleh karena membaca trend yang membayangi kita, maka isu STREAMS mesti dihembuskan dan skenario harus dibuat secara probability dengan prinsip fleksibilitas. Namun demikian tantangan tetap saja mengintai di depan mata bak spionase menjalankan tugasnya. Siapakah dia? Dia adalah VUCA, yakni Volatility, Uncertainly, Complexity dan Ambiguity. Situasi, kondisi, dan regulasi yang cepat berubah, tidak pasti, kompleks, dan mendua membutuhkan analisis yang tajam dan tepat. 

Melalui wadah ini maka paradigma kajian transdisipliner keilmuan dapat dengan mudah dilakukan. Bahkan pada tingkat tertentu STEAMS ini menjadi basis pengembangan dan pembentukan disiplin ilmu baru yang berdiri sendiri. Karena memang transdisciplinary paradigm berujung pada pembentukan disiplin ilmu baru sebagai buah dari sintesis yang dilakukan pada minimal 3 disiplin ilmu dengan rumpun yang berbeda, lalu diintegrasikan menjadi satu. Semisal Fikih-Sosio-AI. Fikih merupakan satu disiplin ilmu yang berasal dari rumpun ilmu agama; Sosiologi juga satu disiplin ilmu dalam rumpun ilmu sosial, dan Artificial Inteligence merupakan satu disiplin ilmu yang berasal sari rumpun ilmu formal karena hasil pengembangan dari matematika-algoritma-ilmu komputer, atau bisa diposisikan ke dalam rumpun ilmu terapan sebagai hasil pengembangan teknologi. Fikih-Sosio-AI adalah konsep disiplin ilmu yang mengkaji bagaimana interaksi sosiologis di dunia virtual reality antar avatar atau bentuk artificial inteligence lainnya dalam pandangan hukum Islam. 

Sejatinya, STEAMS ini diletakan dasar-dasarnya oleh ilmuwan muslim bernama Alkhawarizmi. Ia sangat berjasa mengembangkan Algoritma sebagai basis teknologi saat ini. Formula pengembangannya sudah menghasilkan  banyak produk teknologi seperti Handphone, Artificial Inteligence, Big Data, Cloud Computing, Distribute Ledger Technology, Immersive Technology (AR, VR, MR, ER), Three D Design, super computer, dan pengembangan alat teknologi lainnya. Akhirnya the last question, apakah lembaga pendidikan Islam berani mengambil peran ini, atau hanya menjadi penonton yang duduk di tribun belakang.(*)

Baca Juga :