Prof. Dr. Husain Insawan, M.Ag - Rektor IAIN Kendari
Pasca alih bentuk IAIN Kendari menjadi UIN Kendari (UINRI) muncul pertanyaan, apakah alih bentuk ini hanya sekedar peralihan nama saja ataukah ada agenda lain? Pertanyaan ini tentu akan dijawab oleh pimpinan dan segenap pelaksana akademik UINRI dengan menampilkan beberapa agenda penting:
Pertama, menguatkan legitimasi dan rekognisi kelembagaan. Hanya berselang satu bulan, UINRI sudah menghadirkan Rekor MURI untuk kategori Peresmian Galeri Investasi Secara Serentak Terbanyak. Rekor MURI kali ini merupakan Rekor MURI kelima yang mencatatkan UINRI sebagai PTKIN terbanyak yang mendapatkan rekor di Indonesia. Di samping MURI, yang terutama adalah mempersiapkan reakreditasi perguruan tinggi dari yang semula berpredikat Baik Sekali menjadi Unggul. Kemudian UINRI berupaya untuk mengejar akreditasi Internasional bagi program studi yang sudah terakreditasi Unggul. Tercatat sudah 8 program studi yang berpredikat Unggul, 13 program studi berpredikat Baik Sekali, dan 6 program studi yang berpredikat Baik, dari 27 program studi jenjang Sarjana (S1) dan Pascasarjana (S2/S3).
Penguatan kelembagaan akan berlanjut melalui upaya UINRI untuk masuk ke dalam jajaran perguruan tinggi yang terekognisi yaitu dengan memasuki perangkingan kampus dunia. Dalam hal ini yang dimaksud adalah Time Higher Education (THE). Mengapa THE yang diutamakan? Karena THE menjadi standar yang digunakan oleh Kemenkeu dan Bappenas untuk memberikan bantuan pengembangan kelembagaan. Sekaligus menjadi salah satu ukuran bagi Kemenag dalam memposisikan PTKIN sebagai kampus yang berkualitas. Belum banyak kampus yang masuk ke dalam THE. Ini merupakan kesempatan emas yang tidak boleh disia-siakan. Baru 4 PTKIN yang masuk ke dalam THE ini, yakni UINRIL Lampung, UINSU Medan, UIN Arraniry Banda Aceh, UIN SUKA Yogyakarta dan UIN SGD Bandung. Sedangkan UINRI Kendari akan menyusul kemudian.
Tidak hanya THE saja, tetapi UINRI juga membidik rekognisi dari Quacquarelli Symonds World University Ranking (QS-WUR). QS-WUR berkedudukan di Inggris dan menjadi barometer kualitas pendidikan dunia. UINRI mencoba untuk masuk pada jajaran itu.
Perangkingan UINRI tidak harus terpaku pada QS-WUR tapi juga perlu mengukur kualitas kampus kita pada tataran Regional Asia dan Nasional. Pada rangking berapa UINRI Kendari bertengger secara global, regional, dan nasional.
Kedua, melakukan beautifikasi kampus. Agenda ini menjadi penting karena beautifikasi kampus ini merupakan bagian dari upaya Green Campus sekaligus membackup program Ekoteologi yang dicanangkan Menteri Agama. Jadi Green Campus sangat krusial untuk diwujudkan. Langkah perencanaan dan capaian gerakan Ekoteologi dan Go Green menjadi parameter untuk menentukan eksistensi kampus UNRI sebagai kampus yang hijau. Apresiasi terhadap seluruh langkah Go Green dan program Ekoteologi menjadi salah satu tolak ukur untuk memberikan Awards kepada UINRI sebagai Kampus Hijau (Green Campus). Status sebagai kampus hijau merupakan bagian dari legitimasi dan rekognisi bagi UINRI.
Ketiga, meningkatkan mutu dan kualifikasi sumber daya manusia. UINRI membuka kesempatan yang seluas-luasnya bagi para dosen dan tenaga kependidikan untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Dosen yang belum Doktor sedapat mungkin melanjutkan pendidikan ke jenjang Doktor. Begitupula tenaga kependidikan yang belum Magister atau Doktor dapat melanjutkan pendidikan pula. Bagi dosen dan tenaga kependidikan sedapat mungkin melanjutkan pendidikan pascasarjana di dalam kampus UINRI saja. Langkah ini merupakan upaya lembaga untuk meningkatkan mutu sumber daya manusia di UINRI. Dan dapat pula menjadi pintu bagi dosen untuk menuju Guru Besar atau bagi tenaga pendidikan dapat beralih ke tenaga fungsional dosen karena UINRI masih membutuhkan dosen, terutama dosen yang sesuai program studi yang dimiliki UINRI. Para dosen yang sudah Lektor Kepala terus didorong dan difasilitasi agar meraih jabatan akademik Guru Besar (Profesor). Begitu pula dengan dosen yang Lektor didorong dan difasilitasi untuk mendapatkan jabatan akademik Lektor Kepala. Sedangkan untuk calon dosen dan Asisten Ahli dimudahkan dan dipercepat agar mendapatkan jabatan akademik Asisten Ahli atau Lektor.
Keempat, meningkatkan sitasi dan reputasi jurnal ilmiah. UINRI memiliki tidak kurang dari 25 jurnal ilmiah. Baru 2 jurnal ilmiah yang mendapatkan peringkat Sinta 2. Selebihnya Sinta 3-5. UINRI mendorong agar seluruh jurnal yang ada ditingkatkan statusnya minimal Sinta 4. Sedangkan jurnal Sinta 2 didorong dan difasilitasi agar mendapatkan predikat sebagai jurnal bereputasi yang terindeksasi Scopus. Tidak hanya jurnal ilmiah Sinta 2 saja yang disiapkan, tetapi juga jurnal ilmiah lainnya yang mendapatkan atensi serius dari Scopus dapat dimatangkan untun diajukan ke lembaga indeksasi Scopus untuk mendapatkan standar quartil-nya. Persiapan menuju ke arah jurnal bereputasi dilakukan dengan menyediakan tim dan fasilitas kerja yang memadai. Tim yang dibentuk adalah tim yang siap bekerja dan berkonsentrasi hanya pada pemeringkatan jurnal menuju jurnal bereputasi.
Kelima, mewujudkan kampus yang menjadi episentrum pendidikan. Bila kampus sebelumnya masih berbentuk sekolah tinggi atau institut, belum konfidens untuk membuka program studi yang konsern pada kesehatan dan teknologi. Maka kini setelah beralih bentuk menjadi universitas terbuka kesempatan yang seluas-luasnya untuk membuka program studi pada kedua bidang dimaksud. Hal ini dilakukan semata-mata karena mencermati perkembangan trend pangsa pasar yang cenderung ke arah ilmu kesehatan dan teknologi informasi. Oleh sebab itu, dibutuhkan sumber daya manusia yang berkualifikasi dan berkonsentrasi pada kedua bidang tersebut. Cara yang dilakukan adalah dengan membuka penerimaan pegawai dan dosen melalui skema mutasi PNS, sembari menunggu kesempatan penerimaan calon dosen dan tenaga administrasi secara reguler. UINRI mengalami kekurangan dosen dan tenaga kependidikan, sehingga dengan skema mutasi PNS dapat dipenuhi kebutuhan tersebut dalam waktu yang tidak lama.