Prof. Dr. Husain Insawan, M.Ag - Rektor IAIN Kendari
Sambutan Sekjen Kemenag RI, Kamaruddin Amin memantik pemikiran akademis para Rektor PTKIN yang hadir dalam acara Sidang Kelulusan UM-PTKIN 2026 bahwa saat ini sepertinya telah terjadi pergeseran otoritas keagamaan dari PTKIN ke pesantren atau ormas Islam, seperti MUI, NU, Muhammadiyah, Alwashliyah dll.
Sembari memberikan contoh bahwa kalau pada masa lalu tersebutlah Harun Nasution dan Nurcholish Madjid yang mampu mendidik para dosen ketika melanjutkan pendidikan di IAIN Jakarta saat itu. Dan ketika kembali ke kampusnya banyak pemikiran keagamaan yang dilahirkan dan ditularkan kepada mahasiswa dan masyarakat, sehingga nampaknya mereka terkesan sangat otoritatif. Dosen produktif dan answerable dimaksud di antaranya Nasaruddin Umar ahli tafsir, Jalaluddin Rahman dan Moch. Qasim Mathar ahli pemikiran Islam, Hamka Haq ahli fikih, Syuhudi Ismail ahli hadis dll. Mereka dianggap mampu menjawab berbagai persoalan keumatan. Pertanyaan yang muncul adalah mengapa para dosen itu mampu memegang peranan penting untuk memberi solusi atas persoalan agama. Tapi kenapa sekarang ini para dosen PTKIN terkesan “mandul” sehingga tidak mampu mempertahankan otoritas tersebut.
Sejatinya dosen kita tidak “mandul” tetapi mereka tetap saja produktif dan memegang otoritas keagamaan. Hanya saja lembaga yang digunakan bukan atas nama kampus karena mereka dalam batas tertentu merasa diri kurang mendapatkan perhatian, sehingga untuk menyampaikan fatwa dan pemikiran keagamaan, mereka memanfaatkan dan mengatasnamakan ormas Islam seperti MUI, NU, dan Muhammadiyah, Alwashliyah dll. Jadi institusinya berbeda tetapi orangnya sama, yakni dosen yang sama-sama berasal dari kampus PTKIN.
Pada sisi lain memang masyarakat membutuhkan jawaban yang praktis dan segera atas berbagai persoalan umat. Sementara iklim keilmuan kampus sangat teoritis-metodologis dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk meneliti dan memberikan jawaban atas masalah keagamaan yang dihadapi. Di samping itu, saat ini peran dosen selaku pemikir telah diambil alih oleh teknologi informasi. Dulu dosen dipandang sebagai gudangnya ilmu pengetahuan karena mereka memiliki seabrek buku dan literatur yang selalu dibaca dan didiskusikan, tapi kini peran tersebut sudah direbut oleh Artificial Intellegence, Chat GPT, Gemini, Meta AI, dll., sehingga orang tidak lagi menyandarkan diri semata pada dosen dari kampus tetapi sudah mampu mencari dan menemukan sendiri solusi keagamaan yang dihadapi.
Pun demikian dengan kampus PTKIN saat ini yang mengusung paradigma integrasi keilmuan yang mengkombain antara sains dan agama namun muatan sainsnya terlalu dominan sehingga ilmu agamanya secara perlahan mulai memudar. Ditambah lagi dengan tugas para dosen yang terlalu banyak dan “terjebak” ke dalam rutinitas administrasi yang melelahkan seperti BKD, SIAKAD, SISTER, akreditasi dll. membuat dosen tidak lagi produktif dari sisi pengembangan keilmuan.
Di pihak lain, anggaran PTKIN yang dipandang semakin sedikit, sehingga hal ini berpengaruh pula pada produktivitas keilmuan dosen karena untuk melakukan riset yang serius mesti membutuhkan anggaran yang tidak sedikit, terutama bagi PTKIN yang “kecil”. Walhasil karya ilmiah dosen yang menguatkan pengembangan keilmuan semakin minim didapatkan. Dengan melihat kondisi ini, pada akhirnya masyarakat pun menyadari bahwa dosen PTKIN tidak lagi dapat diandalkan sebagai tempat bertanya apalagi memutuskan suatu perkara keagamaan karena telah diketahui bahwa dosen tidak lagi larut dalam kajian khazanah keilmuan Islam klasik dan kontemporer, tapi justru lebih banyak bergumul dengan administrasi kampus dan kebutuhan dirinya sendiri yang lebih bersifat pragmatis-ekonomis. Akhirnya masyarakat lebih banyak “lari” ke pesantren atau ormas Islam ketimbang menunggu jawaban yang tidak pasti dari kampus.
Wallahu a’lam bi al-shawab