Prof. Dr. Husain Insawan, M.Ag - Rektor IAIN Kendari
Sebuah fenomena yang menarik yakni ketika prodi langka peminat di PTKIN justru diminati di luar negeri. Prodi seperti akidah-filsafat, perbandingan mazhab, ilmu hadis, pembinaan masyarakat Islam, sejarah kebudayaan Islam, studi agama-agama, bahasa Arab, pemikiran Tasauf dan sebagainya menjadi lebih digandrungi oleh calon mahasiswa dari mancanegara.
Negara yang berada di kawasan Asia Tenggara seperti Malaysia, Brunei, dan Thailand, serta negara yang berada di Samudera Hindia seperti Maladewa, Madagaskar, dan Somalia atau negara-negara pecahan Uni Soviet seperti Kazakstan, Uzbekistan, dan Samarkand, lebih tertarik pada kajian-kajian Islam dari aspek fikih, sosial, sejarah dan doktrinnya.
Kajian mereka sebenarnya masih sangat sederhana ketimbang kajian Islam kita. Kajian Islam di Indonesia boleh dikata sudah melampaui zamannya. Sudah jauh lebih luas dan mendalam. Kalau boleh disebut bahwa kajian mereka baru berada pada tataran kulitnya saja, sedangkan di Indonesia sudah sampai pada isi terdalam dari Islam itu sendiri. Bahkan sudah sampai pada tahap bagaimana mengintegrasikan ilmu agama dengan berbagai ilmu konvensional.
Kajian Islam di mancanegara masih berada pada taraf monodisipliner, intradisipliner dan paling banter antardisipliner. Belum sampai pada kajian multidisipliner dan interdisipliner, apalagi transdisipliner. Sementara di Indonesia sudah bermain pada level multidisipliner seperti di UIN Suska Riau, interdisipliner di UIN Suka Yogyakarta, dan transdisipliner di IAIN Kendari.
Sangat menarik minat mereka manakala para akademisi Indonesia melakukan kajian Islam dengan menyentuh sisi terdalam dari sebuah ilmu, lalu disintesiskan dengan berbagai disiplin ilmu pengetahuan yang ada dari berbagai rumpun keilmuan, baik rumpun ilmu sosial, humaniora, alam, formal, maupun rumpun ilmu terapan. Sungguh amat luar biasa disaksikan oleh mereka.
Oleh sebab itu, kalangan mahasiswa mancanegara yang sudah berpikir modern dan progresif pasti akan menjadikan para intelektual muslim Indonesia sebagai rujukan dalam mengembangkan kajian Islam. Dan tidak sedikit di kalangan mereka yang sengaja datang dan memilih PTKIN sebagai destinasi studinya. Mereka ingin selangkah atau beberapa langkah lebih maju ketimbang mahasiswa atau intelektual muslim yang ada di negaranya yang terkesan kajiannya masih nomaden.
Mereka berharap bahwa Indonesialah yang mesti menjadi pelopor pembangunan peradaban Islam masa depan karena pikiran keislamannya luas dan mendalam, jumlah lembaga pendidikan islamnya sangat banyak, potensi demografis muslim pun terbanyak di dunia, sehingga amat logis manakala Indonesia harus dipercayakan untuk berada pada garda terdepan dalam mengibarkan panji-panji kemajuan peradaban Islam di masa yang akan datang, di saat dunia muslim lainnya terbuai dengan urusan bisnis dan duniawi.
Pada konteks ini maka dipandang perlu agar PTKIN membuka prodi atau jurusan yang kita sebut sebagai langka peminat itu untuk diluncurkan di mancanegara. Maka itu muncul gagasan agar PTKIN membuka perguruan tinggi cabang di luar negeri. Tidak hanya perguruan tinggi ternama dari Amerika dan Eropa yang membuka cabang di Indonesia, tapi PTKIN pun harus berekspansi dengan membuka cabang di luar negeri. Langkah ini juga sekaligus menjadi ajang diseminasi keilmuan Islam di jagat bumi ini. Dan stereotip terhadap muslim serta keyakinannya tidak berkembang menjadi sebuah kebencian.
Langkah strategis ini sejatinya telah dipikirkan sebelumnya oleh IAIN Kendari sesuai ASTA PERAN-nya yakni menjadi PTKIN yang MENDUNIA. Upaya mengibarkan bendera di mancanegara merupakan salah satu cara yang ditempuh untuk “menduniakan” IAIN Kendari. Kita tidak boleh takut bermimpi sebelum bermimpi itu dilarang.
IAIN Kendari sudah mendapatkan tawaran dari Malaysia untuk membuka cabang di sana dari sebuah institusi pendidikan tinggi. Tawaran ini suatu saat akan mendapatkan momentumnya untuk disahuti oleh IAIN Kendari sembari menyiapkan infrastruktur pendukungnya.(*)