Prof. Dr. Husain Insawan, M.Ag - Rektor IAIN Kendari
Perang sudah hampir memasuki bulan ketujuh. Belum ada tanda-tanda damai permanen yang diwujudkan. Yang muncul justru kejenuhan dan frustrasi tentara AS yang semakin memuncak, inflasi yang sangat tinggi, angkatan kerja yang minim terserap, banyaknya negara dan warga negara yang menentang perang, biaya perang yang semakin menipis, lemahnya diplomasi ketika berhadapan dengan Iran. Demikian fakta yang bisa disaksikan di berbagai media.
Memang perang masih berlangsung, namun sejumlah kalangan memberikan penilaian yang beragam. Dari dalam negara AS saja masih ada yang memandang bahwa AS sudah kalah dalam perang tersebut. Bahkan disebutkan AS benar-benar kalah telak. Adalah John Mearsheimer yang membuat pernyataan sebagai jawaban atas pertanyaan presenter televisi dalam sebuah sesi wawancara; siapakah yang menang dalam perang antara AS dan Iran. Secara enteng Mearsheimer mengatakan bahwa AS mengalami kekalahan telak dalam perang melawan Iran. Alasannya bahwa dari empat tujuan yang hendak dicapai AS, tidak ada satupun yang tercapai: 1) pergantian rezim; 2) melumpuhkan kemampuan Iran untuk pengayaan uranium; 3) menghentikan dukungan Iran terhadap Houthi, Hizbullah dan Hamas; serta 4) mengakhiri perang rudal jarak jauh. Bahkan keinginan AS untuk mengontrol Selat Hormuz, menurut Mearsheimer justru yang terjadi sebaliknya, di mana yang memiliki kekuatan untuk mengontrol Selat Hormuz adalah Iran sendiri. Ditambah lagi struktur pangkalan militer AS di Kawasan Teluk hancur lebur akibat serangan Iran. Jaringan sekutu dan proxi AS berantakan di Timur Tengah, serta dampak terhadap krisis energi dunia dan ekonomi internasional bisa saja runtuh sewaktu-waktu.
Tujuan pertama, di mana AS menyerang Iran tepat di jantung Kota Teheran yang menewaskan Ali Khamenei dengan harapan rezim akan mudah digantikan, tapi ternyata yang terjadi justru Teheran mengangkat anak Khamenei yaitu Mojtaba untuk menjadi supreme leader dalam sistem kepemimpinan Wilayatul Faqih yang dijalankan 88 Mullah Iran tetap berjalan normal seperti biasa. Tujuan utama dari memerangi Iran dengan menggantikan pemimpin nasional Iran tidak tercapai.
Tujuan kedua, yakni perang yang hendak melumpuhkan pusat pengayaan uranium Iran tidak terbukti karena Iran memiliki pabrik pengayaan uranium tersimpan rapi jauh dari permukaan tanah dan berada di bawah gunung berbatu dengan sistem proteksi dan deteksi yang ultra canggih. Uranium yang dimiliki Iran adalah untuk kepentingan riset, pendidikan dan kesehatan. Namun dalam kondisi terdesak bisa saja beralih untuk tujuan perang yakni pembuatan senjata nuklir. Walhasil tujuan kedua dari perang AS melawan Iran tidak mencapai hasil.
Tujuan ketiga, AS menyerang Iran untuk menghentikan tindakan Iran yang mendukung perjuangan tentara Houthi di Yaman, Hizbullah di Lebanon, dan Hamas di Palestina. Inipun ternyata tidak tercapai juga. Buktinya Houthi tetap konsisten melakukan penyerangan terhadap kapal-kapal musuh yang melintasi Hormuz yang dekat dengan wilayah Yaman. Hizbullah tetap melakukan perlawanan keras terhadap tentara Zionis Israel. Mereka tetap berjuang mempertahankan sejengkal tanah pun yang dimiliki agar tidak jatuh ke tangan Zionis. Agenda Israel Raya yang hendak diwujudkan mengalami jalan buntu akibat perlawanan yang tidak mengenal kata menyerah dari Hizbullah. Pun Hamas tetap menjadi milisi yang ditakuti tentara Zionis Israel karena bentuk perlawanan mereka yang bervariasi. Terutama kemampuan perang di lorong-lorong pasir bawah tanah. Faktanya tujuan ketiga AS ini tidak tercapai.
Tujuan keempat dari memerangi Iran yakni hendak mempressure agar Iran menyerah setelah mendapatkan serangan rudal jarak jauh, ternyata kondisinya berbicara lain. Iran tanpa diduga justru melakukan serangan balasan yang jauh lebih dahsyat dari yang diperkirakan. Bahkan Iran mampu memproduksi rudal jarak jauh dalam jumlah sangat banyak yang lebih canggih, presisi, anti radar, landas pacu yang sederhana, dan biaya perakitan yang sangat murah, tetapi memiliki daya penghancur yang sangat dahsyat. Lagi-lagi tujuan keempat dari perang ini jauh panggang dari api.
Sekarang timbul pertanyaan. Siapakah John Mearsheimer itu? Ia adalah figur maha terpelajar, seorang profesor ilmu politik dan pakar hubungan internasional asal Amerika Serikat yang memiliki homebase di Universitas Chicago. Ia sangat terkenal sebagai tokoh utama aliran Realisme Ofensif. Aliran ini berpandangan bahwa negara-negara besar terus bersaing tanpa henti untuk memperebutkan wilayah kekuasaan demi keamanan di dunia tanpa penguasa pusat.
Mearsheimer mengarang magnum opusnya yang terkenal The Tragedy of Great Power Politics (2001) yang memandang bahwa persaingan antarnegara adidaya tidak akan bisa dihindari. Persaingan senjata dan monopoli ekonomi terus berkelanjutan. Mearsheimer kerap kali mengkritik kebijakan luar negeri AS yang terlalu bernafsu menyebarkan demokrasi liberal ke berbagai belahan dunia. Demokrasi liberal ini semakin banyak memakan korban. Terutama di negara-negara dunia ketiga atau negara berkembang. Demokrasi liberal setelah diterapkan pada akhirnya akan dikendalikan langsung oleh AS sendiri sebagai “suhu”.
Mearsheimer bersama Stephen Walt pernah menulis buku yang sangat kontroversial berjudul The Israel Lobby and U.S. Foreign Policy yang membahas tentang pengaruh besar kelompok lobi Israel terhadap politik AS. Buku ini sempat mengguncang psikologi para pemimpin tertinggi AS. Mearsheimer juga terlibat aktif dalam memberikan analisis tajam terhadap beberapa konflik besar dunia. Ia menentang terjadinya perang Irak yang sampai hari ini tidak terbukti bahwa Irak mengembangkan senjata biologi atau senjata pemusnah massal. Mearsheimer menolak adanya perluasan NATO yang pada akhirnya terbukti telah memicu perang Ukraina-Rusia yang hingga saat ini belum juga damai.
Wallahu a’lam bi al-shawab.(*)