Prof. Dr. Husain Insawan, M.Ag - Rektor IAIN Kendari
Rasulullah bersabda: “Shuumuu tashihhuu”. Berpuasalah kalian supaya kalian sehat”. Kalimat ini tidak hanya sekedar sabda tanpa makna. Rasulullah menyabdakan sesuatu sudah pasti memiliki makna filosofis yang dapat ditemukan di dalamnya. Mungkin puasa yang dijalankan terasa berat, tetapi mengandung manfaat yang berlipat ganda, terutama bagi fisik manusia.
Manfaat puasa secara medis telah banyak dijelaskan bahwa orang yang berpuasa itu, pada hari pertama, perutnya akan merasakan lapar tidak seperti biasa, disebabkan gula darah yang mengalami penurunan secara signifikan. Gula darah mengandung kalori, apabila kita beraktivitas seperti bekerja fisik atau berolah raga, maka kalori tersebut akan mengalami pembakaran, sehingga dapat menghasilkan energi bagi kebutuhan gerak fisik dan psikis manusia. Energi inilah yang digunakan untuk berpikir, bekerja, atau aktivitas lainnya yang membutuhkan energi. Makanya tidak heran kalau orang yang berpuasa kemudian akan merasakan lapar, seperti tidak biasa dialami. Akibatnya rasa lemas akan muncul. Seolah seperti gadget yang harus dicharge karena baterai litiumnya mengalami kekurangan signifikan. Kondisi ini akan berlangsung selama dua hari atau lebih.
Kemudian pada hari ketiga,
lemak darurat akan mulai dibakar agar menghasilkan energi pula. Lemak yang tersembunyi di balik kulit pun akan terbakar. Jadi tidak hanya perut yang disasar, tetapi juga lemak yang menempel di badan kita pun tidak luput dari pembakaran. Lalu kepala terasa cenat cenut sebab suplai energi ke kepala mulai berkurang. Akibat lain yang muncul adalah nafas terasa berbau karena adanya pembakaran tadi yang beroperasi bersamaan dengan mesin pembakar lemak yang tetap menyala. Kejadian ini akan berlangsung selama lima hingga enam hari dan terakumulasi dengan kondisi tubuh pada hari pertama sampai hari ketiga.
Sementara itu, pada hari ketujuh, akan terjadi penurunan insulin secara drastis dan lemak tubuh secara perlahan mulai luntur. Pada hari ini, sel-sel tubuh yang mengalami kerusakan selama seminggu berlalu, akan mulai dibersihkan dan dimakan oleh sel-sel hidup yang membutuhkan makanan. Kondisi inilah yang menyebabkan terjadinya peristiwa yang disebut sebagai super detoksifikasi dan proses autophagi yang sangat efektif. Kondisi ini akan berjalan secara simultan hingga hari kesembilan.
Kemudian pada hari kesepuluh, kondisi otak yang terdiri dari neocortex, amigdala, hypothalamus, dan lobus temporal akan lebih fokus dan teliti. Persediaan energi akan semakin stabil dan tubuh semakin survive untuk menjalani aktivitas dan pekerjaan lain. Pada kondisi ini, tubuh semakin nyaman dan rileks serta menimbulkan rasa senang karena tubuh tidak merasakan adanya sakit atau keluhan lain. Kondisi ini akan berlangsung secara simultan hingga pada hari ketiga belas.
Sedangkan pada hari keempat belas atau dua minggu berpuasa, peradangan tubuh yang selama ini mungkin dirasakan akan mengalami penurunan. Kondisi perut juga, sistem pencernaannya akan semakin teratur. Usus besar dan usus kecil secara otomatis akan dibersihkan melalui sistem detoksifikasi. Pada minggu kedua ini pula, sistem imun kita akan semakin meningkat. Penyakit musiman yang biasa datang menyerang akan menghadapi benteng imun yang kuat. Penyakit tidak mudah masuk menyerang karena sistem kekebalan tubuh kita semakin kokoh. Kondisi ini akan berlanjut hingga hari kesembilan belas.
Lalu pada hari kedua puluh satu atau tiga minggu berpuasa, tumpukan lemak bandel akan habis terkikis. Lemak terbakar untuk menjadi energi dan terurai hingga menjadi sampah. Pada minggu ini pun tekanan darah menjadi membaik dan normal. Organ tubuh bekerja lebih ringan karena tidak ada tumpukan lemak yang mengganjal atau sistem peredaran darah tidak terhambat. Kondisi ini berjalan simultan dengan keadaan organ tubuh yang lain sampai dengan hari kedua puluh sembilan.
Akhirnya pada hari ketiga puluh atau sebulan berpuasa, tubuh akan kembali normal seperti biasa, tanpa gangguan yang berarti. Tubuh telah tertata ulang secara sistematis dan paripurna. Kondisi tubuh merasa seolah baru terlahir kembali atau seperti berada di masa kecil. Kondisi tubuh di saat itu diasumsikan seolah fitrah kembali. Jadi secara medis, puasa tidak hanya menghasilkan tubuh yang fresh dan sehat, tetapi secara subtantif organ tubuh dan jaringannya, sistem peredaran darah, metabolisme tubuh semakin baik, sistem sel yang semakin sehat, dan sistem kekebalan tubuh yang semakin meningkat merupakan indikator bahwa tubuh juga ber-idulfitri.
Pada 1 syawal tepat saat Idul fitri tiba, akan terjadi korelasi positif antara tubuh yang bugar kembali secara jasmaniah dengan fitrah manusia yang suci kembali secara batiniah. Kondisi tubuh yang sehat dan fresh secara medis akan tercipta dan dijalani seperti yang diuraikan di atas, manakala kita mengikuti semua syarat dan prosedur dari pelaksanaan ibadah puasa secara tertib dan konsisten. Apalagi ditambah dengan olahraga yang teratur dan dimasukan ke dalam agenda harian di sela-sela kita berpuasa, maka akan semakin terasa betapa sehat dan segarnya tubuh kita. Jiwa kita akan merasa lebih muda karena fisik kita yang selalu terbarukan. Wallahu a’lam bi al-shawab.(*)