-BENAK REKTOR-

POSISI RUPIAH 27-28 JULI 2026

Dipublish Tanggal 29 September 2026 Pukul 23:48 Prof. Dr. Husain Insawan, M.Ag - Rektor IAIN Kendari

Per tanggal 27 Juli 2026 rupiah ditutup melemah di Rp. 18.009 per dolar AS sehingga melemah sekitar 46 poin atau 0,26% dari Rp17.963. Pada 28 Juli, rupiah kembali melemah dan ditutup di sekitar Rp18.083 per dolar AS. Bertepatan dengan itu terjadi pengunduran diri yang dilakukan Perry Warjiyo sebagai Gubernur Bank Indonesia. Pengunduran diri ini bukan merupakan faktor utama melemahnya nilai tukar rupiah terhadap Dolar AS. Namun tidak dipungkiri sedikit berpengaruh pada pergerakan nilai tukar rupiah. Memang sebelum pengunduran diri Gubernur BI Perry Warjiyo, rupiah memang sudah mengalami tekanan. Pada 24 Juli rupiah berada sekitar Rp17.943 per dolar AS dan disebut telah melemah sekitar 7% sejak awal tahun. Dalam konteks ini, pengunduran diri Gubernur BI lebih tepat dilihat sebagai faktor tambahan yang memperbesar tekanan, bukan menjadi satu-satunya penyebab. Dengan demikian di hari tersebut, IDR mengalami depresiasi terhadap USD. 

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi diantaranya faktor eksternal, yakni: 

Pertama, munculnya kebijakan suku bunga The Federal Reserve yang cenderung mempertahankan suku bunga pada pertemuan 28–29 Juli, tetapi terdapat ekspektasi kenaikan suku bunga pada September. Media Indonesia mencatat probabilitas kenaikan tersebut sekitar 78% berdasarkan CME FedWatch. Hal ini juga menjelaskan bahwa kebijakan The Federal Reserve tidak hanya memengaruhi USD, tetapi ikut memengaruhi cash flow dan pasar keuangan Indonesia. 

Kedua, belum meredanya konflik geopolitik yang menimbulkan ketidakpastian global. Media Indonesia mencatat bahwa konflik dan gangguan rantai pasok di kawasan Timur Tengah memengaruhi harga minyak. Bahkan, harga minyak sempat melonjak sekitar 20% dalam dua pekan dalam konteks ketegangan AS-Iran dan gangguan di jalur pelayaran. Selain itu, apabila harga minyak meningkat, Indonesia menghadapi potensi peningkatan biaya impor energi. Hal ini dapat meningkatkan kebutuhan valuta asing untuk membayar impor. 

Ketiga, adanya perubahan perdagangan global dan perang tarif. Terjadinya perubahan ekonomi global, perang tarif, proteksionisme pasar, dan perubahan struktur perdagangan internasional yang berpotensi memberikan tekanan terhadap industri nasional. Dalam konteks ini, Indonesia diharap mengambil langkah dengan meningkatkan ekspor produk bernilai tambah, bukan hanya mengandalkan ekspor komoditas mentah. 

Keempat, adanya imbal hasil obligasi AS. Sedemikian tinggi imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat sebagai salah satu penekanan menurunnya nilai tukar IDR. Faktor tersebut bersamaan dengan ketidakpastian suku bunga global, konflik Timur Tengah, kenaikan harga energi, dan kebutuhan USD domestik. Dari perspektif ekonomi dan bisnis, situasi yang semakin menarik imbal hasil aset USD, semakin besar kemungkinan investor mempertimbangkan kepindahan dana ke aset berdenominasi USD atau melakukan repatriasi terhadap USD.

Sementara itu, terdapat pula faktor internal yang memengaruhi terjadinya depresiasi IDR terhadap USD, yaitu: 

Pertama, terjadinya pengunduran diri Gubernur BI Perry Warjiyo. Meskipun ini bukan satu-satunya penyebab depresiasi rupiah, namun berita pengunduran diri Perry Warjiyo memberikan respons negatif di pasar dan rupiah melemah ke Rp. 18.009 per USD. Namun, para ekonom sebagaimana yang dikutip Media Indonesia menilai pengunduran diri tersebut sebagai “pemicu tambahan”, karena memang tekanan terhadap rupiah sudah terjadi sebelumnya. 

Kedua, adanya polemik mengenai pergantian top leader BI. Sejatinya bahwa perhatian utama pasar adalah bukan hanya pada siapa yang sudah mundur, tetapi yang paling penting adalah siapa yang akan menggantikan Perry Warjiyo serta bagaimana prediksi kesinambungan kebijakan moneter BI. Jika ini tidak dijalankan oleh orang yang tepat di momentum yang tepat, maka IDR akan mengalami gonjang-ganjing. Media Indonesia melaporkan bahwa pasar memperhatikan profil pengganti Perry, track record, integritas dan kredibilitas BI, serta komitmen menjaga stabilitas rupiah dan sistem keuangan. Dalam waktu yang bersamaan, Destry Damayanti sementara menjalankan tugas sebagai pejabat sementara sampai gubernur definitif ditetapkan. Jadi, ketidakpastian kebijakan menjadi faktor yang dapat meningkatkan risiko bagi aset rupiah. 

Ketiga, menjaga posisi independensi dan kredibilitas Bank Indonesia. Kredibilitas bank sentral penting bagi nilai tukar karena pasar perlu percaya bahwa kebijakan moneter dapat dijalankan secara konsisten untuk menjaga stabilitas harga dan nilai tukar. Sumber Media Indonesia juga mencatat harapan agar gubernur baru menjaga independensi BI, kredibilitas kebijakan moneter, stabilitas rupiah, dan inflasi. 

Keempat, adanya kebijakan BI dan intensitas koordinasi dengan pemerintah. Ekonom INDEF yang dikutip Media Indonesia menjelaskan bahwa BI tidak dapat menjaga rupiah sendirian. Stabilitas nilai tukar berkaitan dengan perdagangan internasional, investasi, dan kebijakan fiskal, sehingga membutuhkan koordinasi dengan Kementerian Keuangan, Kementerian Perdagangan, Kementerian Investasi, dan Kementerian Perindustrian. 

Kelima, secara politik mengenai adanya peringatan terhadap peristiwa Kerusuhan Duapuluh Tujuh Juli (KUDATULI). IDR juga mengalami tekanan politik yang berakibat pada melemahnya nilai tukar terhadap USD karena pemerintah belum mengungkap secara pasti siapa pelaku dan berapa orang yang korban serta bagaimana langkah rehabilitasi psikologis dan finansialnya pada kerusuhan yang terjadi di Kantor DPP PDI tersebut. 

Wallahu a’lam bi al-shawab

Baca Juga :