Prof. Dr. Husain Insawan, M.Ag - Rektor IAIN Kendari
Serangan gabungan AS-Israel ke Iran terjadi dengan alasan Iran melakukan pengayaan uranium sebagai bahan utama pembuatan nuklir. Alasan lain AS adalah karena pemerintahan Ali Hussein Alkhamenei dinilainya bersifat otoriter dengan menangkap ribuan warganya dan sebagian berakhir dengan eksekusi mati. Iran diklaim memiliki senjata nuklir dan pemusnah massal yang menurut Trump akan mengancam keamanan negara, terutama AS. Dan AS memandang Iran sebagai negara teroris sekaligus penyokong terorisme internasional nomor satu di dunia. Inilah hasil analisis intelijen AS sehingga AS-Israel bergabung dan sepakat untuk menyerang Iran di siang bolong. Tetapi sejatinya yang menjadi target utama AS untuk menyerang Teheran adalah karena hendak mengganti posisi pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei dengan mengembalikan hegemoni Syah Reza Pahlevi yang saat ini masih bermukim di AS.
Serangan bersama AS-Israel tersebut dikabarkan telah menewaskan pemimpin utama Iran Ali Khamenei seperti yang dilansir dari beberapa media elektronik dan media sosial yang mengirimkan beberapa informasi ucapan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas wafatnya pemimpin tertinggi Iran tersebut. Berita tentang tewasnya Ali Khamenei masih simpang siur. Kantor berita barat seperti BBC dan CNN serta sejumlah media sosial menyebutkan bahwa Khamenei telah wafat. Namun berita tersebut dibantah pihak pemerintah Iran bahwa Khamenei masih sehat dan saat ini disembunyikan di tempat yang aman. Khamenei menjadi sasaran utama serangan AS-Israel ke Iran karena memang target dari AS adalah membunuh pemimpin tertinggi Iran dan para Mullah serta petinggi militer guna memuluskan pergantian pemerintahan untuk diserahkan kepada rezim Syah Reza Pahlevi penerus dinasti Persia. Pahlevi tidak absen pula memberikan apresiasinya yang sangat tinggi kepada AS atas serangannya yang menghantam Teheran. Tewasnya Khamenei bukannya membuat Iran semakin kendor semangatnya, tetapi justru memompa dan menggandakan semangat IRGC untuk membalas serangan AS-Israel.
Tuduhan di atas sepertinya tuduhan klasik yang ditengarai sengaja dikembangkan AS terhadap Iran untuk mendapatkan simpati dunia. Sampai detik ini tuduhan tersebut belum terbukti. Bahkan kepatuhan Iran terhadap beberapa perjanjian ditunjukan lebih konkret ketimbang seterunya Israel, seperti yang diungkapkan seorang Profesor asal AS. Diungkapkan misalnya, Iran telah menandatangani perjanjian proliferasi nuklir, sedangkan Israel tidak; Teheran bersedia untuk tidak memiliki senjata nuklir, sementara Tel Aviv tercatat telah memiliki sekitar 75-400 misil hulu ledak nuklir. Jadi perjanjiannya tidak berimbang dan siapakah sesungguhnya yang lebih jujur untuk mengakui keberadaan atau ketak beradaan nuklir. Tentu publik internasional akan mengetahuinya. Meski begitu kenyataannya, namun AS-Israel tetap saja menuding Teheran bahwa mereka memiliki dan mengembangkan senjata nuklir.
Akibatnya Iran merespon serangan tersebut dengan menyerang balik Israel dan pangkalan militer AS yang berada di Qatar, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, Yordania, dan Kuwait dengan menggunakan rudal balistik. IRGC juga kemudian menutup Selat Hormuz sebagai tempat lalu lintas kapal tengker pengangkut hampir 21% minyak dunia, sehingga nanti akan berdampak pada naiknya harga minyak di pasaran dunia. Semakin lama perang di gelar, maka semakin mahal pula harga minyak dunia per barrel. Saat ini saja harga minyak sudah berada di kisaran 67-80 USD per barrel. Bila perang berlanjut sampai dengan seminggu hingga dua minggu, maka harga minyak akan naik dua kali lipat per barrel. Hal ini tentu akan berdampak pada persediaan APBN kita. Anggaran APBN akan dipersiapkan untuk menambah subsidi anggaran BBM dalam negeri yang tentu akan menambah beban bagi negara. Dampaknya dalam negeri selanjutnya adalah program MBG dan program kementerian atau lembaga akan mengalami efisiensi ketat. Sebagai program pengguna terbesar anggaran APBN tentu akan tergerus dengan dialihkannya anggaran MBG ke anggaran subsidi BBM dalam negeri.
Satu hal yang paling penting untuk diketahui bahwa sejarah membuktikan semangat perlawanan dari ras Aria tersebut tidak pernah padam karena secara historis suku bangsa Persia tersebut yang hari ini menjelma menjadi negara Islam Iran itu memiliki pengalaman perang yang sangat heroik. Imperium Romawi yang terkenal sangat kuat, pun digasaknya. Tidak pernah pula gentar melawan tentara Yunani yang dikenal spartan. Iran tidak pernah kalah dalam perang saudara melawan Irak. Sebaliknya AS, sebagai negara adidaya, meski dengan mudah menganeksasi Venezuela dan Irak, tapi pernah kalah di medan pertempuran ketika melawan tentara Vietnam. Banyak nyawa tentara AS yang meregang dalam perang Vietnam tersebut.
Sekarang mari kita kalkulasi kekuatan antara kedua pihak. Persediaan senjata yang dimiliki AS besar kemungkinan sudah mulai berkurang karena, di samping harus memenuhi permintaan senjata Ukraina, plus sejumlah senjata sudah dibeli oleh negara-negara teluk yang menjadi sekutu AS, Washington juga menyiapkan diri untuk berbalas serangan dengan Teheran. Pun demikian kekuatan senjata Israel ditengarai sudah mulai menipis karena harus digunakan untuk menghadapi milisi Hamas dan Houthi. Dalam serangan ke Iran yang sudah berlangsung lebih dari 24 jam ini, kita menyaksikan banyak rudal patriot buatan AS yang sudah kurang tepat sasaran, bahkan dicegat oleh rudal Iran. Sementara Iron Dome andalan Israel juga sudah kurang efektif. Persediaannya juga hampir habis. Satu rudal balistik yang ditembakkan Iran harus dicegat dengan minimal dua Iron Dome, sedangkan jumlah Iron Dome Israel hanya sekitar 800 buah. Bila Iran menembakkan 400 rudal balistik, maka otomatis semua Iron Dome akan habis.
Belum lagi finansial dan cadangan minyak yang semakin menipis dengan ditutupnya selat Hormuz yang mengapalkan hampir 21% cadangan minyak dunia, termasuk untuk kebutuhan Eropa dan Cina. Dengan kalkulasi seperti ini maka siapa yang akan "memenangkan" lomba amunisi ini, tentu sangat tergantung pada realitas di medan tempur pada akhirnya. Tetapi sepertinya akan berujung di meja perundingan dengan memperhitungkan dampak yang sangat besar bagi kehidupan dunia dan termasuk kedua belah pihak yang sedang bertikai.
Dampak ekonomi global turut dirasakan dengan adanya serangan ke Teheran. Harga minyak dipastikan akan naik dalam beberapa hari ke depan karena pasokan nyaris 21% minyak dunia tertahan di selat Hormuz. Pergerakan saham menunjukan volatilitas yang tidak stabil. Valuta asing terjadi gonjang ganjing. Penerbangan keluar masuk Timur Tengah ikut dibatalkan dan beberapa bandara dilaporkan rusak berat.
Pada sisi yang lain, negara teluk sekutu AS mulai mengecam Iran karena membombardir pangkalan militer AS yang berada di wilayahnya. Ini bisa menjadi pemicu munculnya perang bersenjata dengan Iran. Negara teluk tentu tidak akan tinggal diam dan akan merespon serangan Iran tersebut. Kita lihat saja dalam benerapa hari ke depan, apakah akan ada reaksi dari negara teluk sekutu AS atau tidak. Apakah segera diakhiri melalui jalur diplomatik, ataukah akan muncul perang berskala besar yang melibatkan kolaborasi kekuatan AS-Israel dan negara negara teluk sekutu AS melawan Iran sendiri. Dan boleh jadi akan muncul pula dukungan dari Uni Eropa untuk AS. Bila ini yang terjadi, maka titik didih perang memencar ke mana-mana. Kita nantikan saja bagaimana situasi berikutnya.
Pertanyaan yang muncul kemudian adalah mengapa Iran menyerang pangkalan militer AS. Jawabannya karena lokus kekuatan AS ada pada pangkalan udara di beberapa negara teluk itu. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah dengan menyerang titik-titik kekuatan AS tersebut. Ketika run way pesawat tempur rusak, maka amat sulit untuk menambah amunisi dan bahan bakar pesawat. Di samping itu, Iran termasuk negara yang tidak mudah ditundukan oleh AS. Satu-satunya negara yang "membangkang" dalam benak Paman Sam.
Sementara di pihak lain, IRGC sengaja melakukan serangan hanya karena merespon balik serangan yang dilancarkan AS-Israel. Dan sasarannya tertuju pada pangkalan udara AS yang ada di Timur Tengah. Diprediksi bahwa serangan balik Iran ini sengaja dilakukan karena hendak menciptakan image kepada masyarakat dunia, kalau langkah politik yang diambil pemimpin negara teluk adalah keliru bila bergabung dengan AS, sekaligus membenarkan serangan balik Iran. Alasan lain adalah untuk menguras persediaan minyak dan biaya perang AS. Demikian pula bila kapal induk harus bolak balik ke AS atau negara sekutu lainnya untuk mengisi bahan bakar dan mengangkut persenjataan untuk kembali ke posisi siaga di teluk, tentu sangat menguras persediaan finansial karena mengingat biaya perang adalah pembiayaan yang sangat mahal. Bayangkan kalau perang ini berlangsung sebulan atau lebih, tentu akan semakin menguras anggaran pertahanan keamanan AS. Jadi sebaiknya negara teluk sekutu AS tidak perlu menyerang balik Iran karena hanya akan memperparah situasi konflik bersenjata di Timur Tengah. Masing-masing negara harus calling down guna membatasi peperangan agar tidak melebar ke negara lain dan memunculkan eskalasi yang semakin meluas.
Teranyar, IRGC menyerang kapal induk Abraham Lincoln dengan beberapa rudal sehingga mengalami kerusakan dan terjadinya korban tentara. Dan kabarnya AS melalui Italia mengajak Iran untuk maju di meja perundingan setelah melihat realita kekuatan Iran yang tidak dapat dipandang remeh. Tapi apakah Iran mau menerima ajakan berunding itu, kemungkinan Iran enggan menerimanya karena serangan ini sudah menelan korban pimpinan tertinggi mereka Ali Khamenei dan pimpinan militer Iran, sehingga kelihatannya Iran hendak mencari impas terlebih dulu dan menyetujui beberapa pointer perjanjian yang disodorkan, sebelum maju di meja perundingan. Wallahu a’lam bi al-shawab.(*)