-BENAK REKTOR-

KALEIDOSKOP GENERAL EKONOMI MONETER INDONESIA 2025

Dipublish Tanggal 01 January 2026 Pukul 15:09 Prof. Dr. Husain Insawan, M.Ag - Rektor IAIN Kendari

Menarik untuk dikaji mengenai posisi nilai tukar mata uang Rupiah (IDR) terhadap Dolar (USD) di sepanjang tahun 2025 ini. Berdasarkan observasi yang dilakukan bahwa untuk periode Januari hingga Mei 2025, nilai tukar  Rupiah (IDR) terhadap Dolar (USD) mengalami fluktuasi dengan rata-rata nilai tukar sekira 16.474 IDR per USD. Nilai tukar tertinggi terjadi pada 8 April 2025, yaitu 1 USD = 17.071 IDR, sedangkan nilai tukar terendah terjadi pada 14 Februari 2025, yaitu 1 USD = 16.180 IDR. Namun secara umum IDR mengalami pelemahan (depresiasi) pada periode Januari sampai Mei 2025.

Sedangkan pada periode Juni hingga Desember 2025, nilai tukar dolar terhadap rupiah mengalami fluktuasi dengan rata-rata nilai tukar sekitar 16.475 IDR per USD. Tapi ternyata Rupiah (IDR) pernah mengalami kondisi terapresiasi secara maksimal sampai menyentuh angka 14.000 IDR per USD. Tidak kurang dari 4 kali terjadi apresiasi IDR terhadap USD, yaitu di antara bulan Juni dan di awal bulan Juli 2025. Pada 9 Juni 2025, IDR mengalami apresiasi dengan harga 15.550 per USD, yang selama ini bermain di level 16.000-17.000 IDR per USD. Kemudian 19 Juni 2025, IDR mengalami apresiasi dengan harga 14.871 per USD. Selanjutnya, 24 Juni 2025 IDR mengalami apresiasi hingga di level terkuat 14.701 per USD. Level tersebut merupakan prestasi tertinggi bagi IDR sepanjang tahun 2025 ini.  Dan 3 Juli 2025 masih mempertahankan nilai apresiasi ke 14.728 IDR per USD. Selebihnya posisi nilai tukar  Rupiah (IDR) terhadap Dolar (USD) sangat fluktuatif sampai akhir Desember 2025. Meskipun pada 2 hari terakhir 30-31 Desember 2025, IDR lending dengan manis menutup tahun ini dalam kondisi terapresiasi dari 16.770 per USD pada 29 Desember 2025 menguat menjadi 16.709 per USD  pada 30 Desember 2025 dan IDR terus menguat pada 31 Desember 2026 menjadi 16.694 per USD. 

Secara umum terjadinya fluktuasi, baik ketika Rupiah (IDR) mengalami apresiasi atau sebaliknya terdepresiasi terhadap Dolar (USD) banyak faktor penyebab yang mempengaruhi. Faktor penyebabnya bisa secara internal dalam negeri dan secara eksternal dari luar negeri.

Melemahnya IDR yang terjadi sepanjang tahun 2025 ini hingga melampaui harga USD pada krisis moneter Indonesia 1998 yang lalu mempunyai beberapa sebab secara internal.

Pertama, adanya pemangkasan suku bunga Bank Indonesia (BI). Pemangkasan suku bunga 7 Days Repo Rate berdampak pada berkurangnya biaya tambahan dan memicu terjadinya pertumbuhan ekonomi yang lebih baik. Namun bisa berdampak pada melemahnya nilai tukar IDR dan para investor tidak tertarik menginvestasikan IDR karena imbal hasilnya yang cenderung sedikit, sehingga berkurang permintaan terhadap IDR.

Kedua, diambilnya langkah kebijakan moneter yang ekspansif oleh BI melalui penambahan jumlah uang yang beredar dengan harapan menstabilkan dan mendorong pertumbuhan ekonomi, meningkatkan konsumsi dan investasi, serta mengurangi angka pengangguran. Akan tetapi kebijakan ini bukan tanpa risiko karena dapat memunculkan inflasi dan ketergantungan pada stimulus moneter yang dapat melemahkan IDR.

Ketiga, faktor reshufle kabinet Merah Putih yang dilakukan Prabowo. Presiden Prabowo Subianto melakukan reshuffle jilid 1 pada 19 Februari 2025. Prabowo melantik enam pejabat, termasuk satu menteri dan beberapa kepala lembaga strategis. Reshufle jilid 2 dilakukan pada 8 September 2025, Prabowo kembali melakukan reshuffle dengan melantik empat menteri dan satu wakil menteri baru, serta mencopot Sri Mulyani dan Dito Ariotedjo. Respon pasar uang terhadap reshuffle Kabinet dinilai negatif yang dibuktikan dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi tajam sebesar 1,28% atau 100,49 poin, mencapai level 7.766,84. Selain itu, para investor asing sangat khawatir tentang ketidakpastian politik dan fiskal dengan bergantinya menteri keuangan. Kemudian yield obligasi pemerintah berpotensi mengalami kenaikan dan biaya utang pemerintah ke depan. Ditambah dengan adanya sentimen publik yang menunjukan 64,4% responden memiliki sentimen negatif.

Keempat, defisit transaksi berjalan yang begitu menganga karena tingginya impor bahan baku dan barang modal. Dan juga tingkat ketergantungan Indonesia terhadap barang impor sangat tinggi yang berpengaruh pada permintaan dolar AS yang semakin meningkat.

Kelima, utang luar negeri Indonesia yang membengkak khususnya peningkatan nilai pembayaran pada sektor swasta dan pemerintah dalam bentuk rupiah ketika nilai tukar melemah.

Keenam, situasi politik dan ekonomi dalam negeri seperti penurunan harga komoditas dan kebijakan politik yang tidak konsisten yang disertai dengan menurunnya harga komoditas global yang turut mempengaruhi pendapatan negara.

Tidak hanya secara internal dalam negeri yang menimbulkan IDR terdepresiasi, secara eksternal pun situasi ekonomi regional dan internasional turut memberikan tekanan terhadap IDR.

Pertama, adanya kebijakan Tarif Trump yang muncul di luar ekspektasi banyak kalangan, terutama Cina yang terkena kebijakan tarif ini sampai 145%. Meskipun juga Xi Jin Ping melakukan “perlawanan” dengan mengenakan tarif hingga 125% terhadap produk USA. Sedangkan Indonesia mengenakan tarif produk USA 30% dan dibalas USA dengan mengenakan tarif 32% untuk Indonesia yang sebelumnya hanya 10%. Tapi karena quick response Prabowo melakukan negosiasi dengan Trump sehingga tarif 32% diturunkan menjadi 19%.

Kedua, suplai USD ke Indonesia yang menurun karena ekspor yang berkurang dan sebaliknya impor yang bertambah, sehingga berakibat pada berkurangnya cadangan devisa bagi negara. Sementara pada sisi lain keberadaan devisa yang lebih dari cukup akan turut memperkuat posisi IDR.

Ketiga, resesi ekonomi USA yang berdampak ke Indonesia. USA mengalami fluktuasi ekonomi dan sejak Januari hingga Agustus mengalami pertumbuhan ekonomi yang negatif. Pola konsumsi warga USA bergeser yang lebih mengutamakan pembayaran biaya perumahan dan pembelian barang kebutuhan primer, ketimbang membeli furnitur atau kendaraan. Sementara barang produk dari Indonesia kebanyakan berupa furnitur yang diekspor dan dijual di USA. Berkurangnya keuntungan nilai produksi barang yang berasal Indonesia ikut mempengaruhi pelemahan nilai tukar IDR.

Keempat, tensi geopolitik di laut Karibia dan latihan perang Cina di Laut Cina Selatan. Konflik di Laut Karibia melibatkan USA vs Venezuela yang meningkat akibat operasi anti narkoba militer AS di Karibia. Venezuela memandang operasi ini sebagai ancaman terhadap kedaulatan dan keamanan nasional negaranya. Latihan perang militer Cina di Laut Cina Selatan bermaksud mengirimkan pesan politik kepada Vietnam, Malaysia dan Filipina bahwa Cina tidak ada kompromi bila ada upaya eksternal untuk menguasai wilayah laut tersebut.

Kelima, secara regional mata uang ASEAN terkoreksi, khususnya Ringgit Malaysia dan Baht Thailand. Demikian pula dengan Won Korea dan Dong Vietnam. Namun masih tetap fluktuatif, terutama Dong Vietnam yang mengalami apresiasi akibat dari meningkatnya perdagangan Vietnam ke USA.

Keenam, kebijakan moneter The Fed yang menaikkan suku bunga acuan, membuat investor global menarik dana dari negara berkembang, termasuk Indonesia dan mengalihkannya ke instrumen berdenominasi dolar AS yang lebih menarik.

Ketujuh, konflik berkepanjangan antara Rusia dan Ukraina serta isu genosida terhadap warga Palestina oleh Zionis Israel yang didukung USA memicu ketidakpastian ekonomi global. Sementara itu dalam waktu yang bersamaan terjadi konflik bersenjata antara Israel vs Iran yang memunculkan ketegangan baru antara Iran vs USA. 

Kedelapan, konflik regional antara India dan Pakistan serta antara Thailand dan Kamboja juga turut mempengaruhi keterpurukan IDR di tengah terkoreksinya nilai mata uang ASEAN.

Faktor internal dan eksternal inilah yang membuat IDR fluktuatif dan lebih dominan terdepresiasi hingga ke level 17.000 lebih di bulan April. Oleh karena itu dengan mengamati kondisi tersebut di atas, maka BI selaku Bank Sentral mengambil langkah-langkah solutif dan strategis dalam menstabilkan nilai tukar IDR.

Pertama, melakukan penyesuaian terhadap suku bunga acuan dengan menaikan atau menurunkannya sebesar 25 basis poin secara elastis yang sangat bergantung pada situasi dan kondisi nilai tukar mata uang IDR. Kedua, mengintervensi pasar NDF offshore dan domestik dengan harapan dapat memperoleh selisih yang menguntungkan. Ketiga, menyiapkan skema DNDF yang mampu mengelola risiko nilai tukar mata uang serta menjaga kebutuhan spesifik perusahaan secara fleksibel. Keempat, menentukan spot dan mengambil keputusan membeli SBN di pasar sekunder dengan maksud menjaga stabilitas nilai tukar IDR dalam melakukan operasi moneter, menjaga sinergitas dengan kebijakan fiskal yang diambil, meningkatkan likuiditas di pasar uang, mendukung pertumbuhan ekonomi dan mencegah keluarnya modal asing. Kelima, adanya tambahan pasokan valas dari korporasi imbas dari kebijakan penguatan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA).(*)

Baca Juga :