-BENAK REKTOR-

NEWCOMERS UINRI 1)

Dipublish Tanggal 22 August 2026 Pukul 11:54 Prof. Dr. Husain Insawan, M.Ag - Rektor IAIN Kendari

Universitas Islam Negeri Kendari (UINRI) dengan gagah tegap melangkah memasuki era baru pasca ditetapkannya sebagai kampus yang beralih bentuk menjadi universitas. Transformasi ini ditandai dengan terbitnya Peraturan Presiden (PERPRES) Nomor 49 Tahun 2026 Tanggal 16 Juli 2026 tentang Alih Bentuk Institut Agama Islam Negeri Kendari Menjadi Universitas Islam Negeri Kendari (UINRI). PERPRES ini dibukukan dalam Lembaran Negara Nomor 86 Tahun 2026. Merujuk pada PERPRES tersebut, maka seluruh dosen, mahasiswa, aset, arsip, dan keuangan beralih menjadi milik UINRI.

Mahasiswa baru yang kita sebut sebagai newcomers mengikuti kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2026 secara praktis menjadi newcomers UINRI. Sebanyak 1137 peserta PBAK langsung tercatat sebagai newcomers atau dalam sejarah Islam disebut Al-Sabiqun al-Awwalun UINRI pada Tahun Akademik 2026/2027 ini.

Dalam rangka menyambut kehadiran newcomers di kampus biru ini, sejumlah harapan dan pesan Rektor yang disematkan ke pundak mereka diuraikan sebagai berikut: 

Pertama, Newcomers harus bisa menetapkan impian. Impian dimaksud adalah cita-cita. Newcomers harus merangkai cita-citanya dengan baik. Cita-cita ditunjang dengan potensi yang dimiliki. Kata bijak menyatakan: “gantungkan cita-cintamu setinggi langit meski kakimu menginjak tanah. Gapailah cita-citamu sampai langit ketujuh. Bila kau jatuh, maka kau akan bertahta di antara bintang-bintang”. Orang tua pun berharap agar anaknya menjadi orang yang bercita-cita tinggi dan berusaha untuk menggapainya. Harapan orang tua ini jangan diabaikan. Orang tua terus berdoa dalam setiap sujudnya dan berjuang memenuhi kebutuhan ekonomi anaknya agar menjadi generasi yang berguna bagi agama, bangsa, dan negara. Kesempatan untuk kuliah di UINRI ini tidak boleh disia-siakan. Kampus UINRI memiliki banyak kelebihan. Ia adalah kampus yang mengintegrasikan antara pengetahuan umum dengan pengetahuan agama. UINRI sudah bisa membuka semua rumpun keilmuan. Bila selama ini kampus hanya terbatas mengembangkan program studi berbasis rumpun ilmu agama. Maka saat ini, UINRI sudah bisa menyelenggarakan enam rumpun ilmu pengetahuan karena wadahnya adalah universitas. Universitas berarti universal. Meliputi segalanya. Tidak terbatas pada prodi ilmu agama saja, tetapi juga prodi ilmu sosial, humaniora, alam, formal dan terapan bisa dibuka. Kampus ini tercatat sebagai kampus yang aman, nyaman, dan damai. Mahasiswa memiliki kebebasan untuk mengekspresikan pikiran dan perasaannya secara akademis dan bertanggungjawab. Dari sisi pembiayaan, UINRI tergolong sangat murah karena ada yang hanya membayar UKT Rp. 400.000 dan tertinggi hanya Rp. 2.400.000. Tidak ada uang pangkal atau uang gedung. Beasiswanya juga melimpah, mulai dari KIP Kuliah, Beasiswa Pemda Konawe Selatan, Konawe Kepulauan, Konawe Utara, Wakatobi, Kolaka Timur, Bombana, dan sementara dalam pembahasan adalah beasiswa Pemerintah Kota Kendari dan Konawe. Terdapat pula beasiswa Bank Indonesia, YBM PLN, Tahfidz dan Prestasi. Masih banyak kelebihan lain yang dimiliki kampus UINRI ini. 

Kedua, Newcomers harus dapat melakukan inovasi. Inovasi dimaknai sebagai kemampuan untun menghadirkan sesuatu yang baru. Kemampuan ini dapat diasah melalui critical thinking atau learning to create. Inovasi menjadi distingsi bagi seseorang. Distingsi diartikan dengan “kebedaan”. Sesuatu yang membedakan dengan yang lain. Sesuatu yang menjadi penciri dari yang membedakan itu. Distingsi atau “kebedaan” merupakan kelebihan dari yang dimiliki. “Kebedaan” bukan perbedaan. “Kebedaan” mesti dipelihara, sedangkan perbedaan harus dieliminasi. “Kebedaan” amat dicari karena menjadi sesuatu yang tidak lazim. Sesuatu yang unik. “Kebedaan” atau distingsi identik dengan inovasi, bahkan buah dari inovasi. Oleh karena itu mahasiswa harus bisa berinovasi. Karena dengan inovasi mahasiswa akan menjadi terkenal. Terkenal karena keunikannya. Mahasiswa bisa melahirkan inovasi. Bentuk inovasinya bisa dalam konten pembelajaran. Bisa pula lahir dari hasil kreativitasnya dan hasil kreasinya itu kemudian diusulkan untuk mendapatkan hak paten atau kekayaan intelektual lainnya. Temuan-temuan seperti ini sebagai sebuah hasil kreativitas akan lebih diapresiasi. Temuan yang bisa tercatat sebagai sebuah prestasi. Prestasi ini tidak hanya membanggakan dirinya, tetapi juga menjadi kebanggaan lembaga tempat mahasiswa itu menuntut ilmu. Inovasi inilah yang membuat mahasiswa menjadi mahasiswa plus ketimbang rekannya yang lain. Mahasiswa yang lain pun bisa melakukan hal yang sama. Kampus memberikan peluang yang sama kepada seluruh mahasiswa tanpa diskriminasi. Orang-orang besar saat ini, bukanlah mahasiswa yang biasa-biasa saja di zamannya ketika kuliah, tetapi mahasiswa yang memiliki daya inovasi yang tinggi, sehingga mereka patut diperhitungkan dan merengkuh keberhasilan saat ini. Mereka yang berinovasi selalu mendapatkan tempat yang layak di depan. Bika ingin selalu berada pada barisan terdepan, maka  mahasiswa harus berinovasi.

Ketiga, Newcomers jangan merasa kecil hati. Berkecil hati atau merasa inferior sering dirasakan oleh mahasiswa. Hal ini sangat wajar. Apalagi para Newcomers mayoritas berasal dari kampung atau desa yang jauh dari ibukota. Namun, seiring waktu rasa kecil hati menjadi berkurang atau hilang dengan sendirinya. Kecil hati ini identik dengan rasa minder. Rasa minder harus dilawan dengan cara memberanikan diri untuk bersosialisasi dan berkomunikasi dengan sesama mahasiswa atau orang lain. Mahasiswa datang ke kampus untuk kuliah tidak hanya berteman dengan sesama mahasiswa yang berasal dari kampung yang sama, tetapi juga harus berkenalan dengan mahasiswa dari kampung atau bahkan etnis dan bahasa berbeda dengan yang lain. Dari situ kemudian mahasiswa akan saling kenal mengenal karakter, bahasa, budaya, tradisi, motivasi, cara belajar, dan sebagainya. Ini menjadi penting karena mahasiswa baru biasanya selalu mencari figur yang patut diteladani. Figurnya bisa berasal dari sesama mahasiswa atau dosen yang mengajarnya. Pola pikir, sikap dan perilaku figur akan selalu ditiru dan menjadi guide dalam hidupnya. Figur bisa berasal dari teman. Berteman harus selektif karena terkadang juga teman yang salah pilih bisa membawa mahasiswa pada jurang kegagalan. Namun banyak pula teman yang bisa mendorong kita untuk meraih keberhasilan dan prestasi. Teman yang baik harus dijadikan sahabat. Sahabat berbeda dengan teman atau kawan. Teman dan kawan pada prinsipnya sama. Tapi kalau sahabat konotasi berbeda dengan teman atau kawan. Kalau teman atau kawan biasanya hadir dalam keadaan suka, gembira, riang dan sejenisnya. Dia akan menghindar kalau kita sudah susah, duka, gagal, terjatuh, atau terluka. Tetapi sahabat itu berbeda, ia hadir baik dalam keadaan suka maupun duka. Dalam keadaan susah maupun senang, riang gembira ataupun kondisi terluka, sahabat selalu hadir di sisi kita untuk memberi semangat, mendukung, dan membela kehormatan kita. Itulah sahabat yang baik. Sahabat sejati dalam kehidupan.

Keempat, Newcomers harus menjadi pembelajar aktif. Generasi Zet (Gen-Z) saat ini sebenarnya bisa lebih cerdas ketimbang dosennya. Mengapa demikian? Karena sumber belajar kini sangat banyak. Mahasiswa tidak lagi bergantung pada sumber-sumber belajar manual. Sumber belajar yang berbasis elektronik sudah sangat banyak. Elektronik book (e-book) bukan lagi perkara sulit untuk didapatkan. Mahasiswa tinggal mendownload sumber pustaka sudah siap untun dibaca. Sangat berbeda dengan mahasiswa zaman “kolonial”. Buku manual susah untuk ditemukan. Mau dibeli juga harganya mahal. Satu-satunya jalan adalah mengunjungi perpustakaan untuk meminjam buku. Buku yang dipinjam pun biasanya bukan buku terbaru, tetapi buku lama yang kertasnya sudah lusuh dan usang. Tetapi semua itu dinikmati dengan baik karena yang terpenting adalah isi buku itu yang hendak dibaca dan diketahui apa sesungguhnya isi dari buku tersebut. Literasi yang tinggi sangat dibutuhkan untuk mengatasi krisis informasi di kalangan mahasiswa saat ini. Kita optimis bahwa dengan banyaknya sumber belajar elektronik, maka akan membuat mahasiswi menjadi cerdas dan kaya informasi. Hal ini terganti pada mahasiswa itu sendiri. Apakah mereka mau berliterasj dengan baik dan berkelanjutan atau tidak. Apakah mereka hendak memanfaatkan gadgetnya hanya untuk berchatting ria atau digunakan untuk mendownload sumber informasi dan membacanya secara tuntas. Setiap mahasiswa harus berani tampil ke depan. Meski salah tidak menjadi persoalan. Yang terpenting harus selalu berani mencoba. Bila sering dicoba pasti akan bisa dilakoni. Hanya yang menjadi persoalan yang ditemukan di kalangan mahasiswa adalah kemampuan public speaking. Kemampuan public speaking ini sesungguhnya bisa dimiliki oleh setiap mahasiswa apabila mahasiswa mempunyai segudang ilmu pengetahuan dan informasi yang bisa diungkapkan pada saat berbicara di depan umum. Jadi data, informasi dan pengetahuan yang didapatkan mahasiswa merupakan faktor kunci dalam berbicara di depan khalayak. Apa yang akan diungkapkan bilamana mahasiswa tidak mempunyai data, informasi dan pengetahuan yang cukup untuk disampaikan.

Kelima, Newcomers sedapat mungkin mampu memupuk daya juang. Mahasiswa menjalani perkuliahan butuh energi dan ketangguhan. Kuliah ditempuh paling sedikit tiga setengah tahun atau paling banyak empat belas semester. Ini bukan waktu yang singkat. Tetapi waktu yang cukup lama. Oleh karena itu membutuhkan daya juang yang tinggi dari mahasiswa. Tidak mudah menyerah atas tugas akademik yang dibebankan kepadanya. Setiap mahasiswa akan menjalani tahapan yang sama. Tidak mahasiswa yang mendapatkan previllage dari kampus. Semua diperlakukan sesuai dengan aturan akademik yang ada. Siapa yang tangguh dan tabah menghadapi tantangan dan rintangan, maka dialah yang akan keluar sebagai pemenang. Pemenang dalam arti dapat menyelesaikan studi secara tepat waktu. Waktu yang dianggap tepat dalam penyelesaian studi adalah berada di rentang tujuh semester atau empat belas semester untuk program pendidikan Sarjana (S1). Berinteraksi dengan dosen dan manajemen kampus memang membutuhkan ketangguhan. Menyelesaikan urusan akademik membutuhkan waktu dan kesabaran. Karena hal itu melatih mahasiswa untuk menjadi pribadi yang tangguh. Bukan menjadi individu yang lemah. Takut menghadapi risiko. Sekuat apapun dirimu untuk menghindar dari risiko akademik, maka risiko akademik tetap akan datang menghampirimu. Jadi hadapi saja dengan tenang dan jangan panik. Kepanikan bisa mengarah kepada kekecewaan dan keputusasaan. Bila kondisi ini yang terjadi maka kuliah anda akan terancam gagal. Maka itu jadilah pribadi yang tangguh, jangan mudah terprovokasi, selesaikan semua urusan akademik yang akan dilewati. Insya Allah anda akan menjadi sukses di kemudian hari.

Keenam, Newcomers harus mampu menggunakan waktu secara efektif. Hadis mengatakan: “Waktu bagaikan pedang. Jika kau tidak memanfaatkannya, maka ia akan memotongmu”. Makna “memotong” ini  secara metaforis bukanlah dalam arti memotong bagian dari tubuh manusia, tetapi memotong peluang anda ke depan. Waktu yang tersedia sangat luang, maka gunakanlah itu dengan sebaik-baiknya. Sebagai mahasiswa tentu waktu itu bisa digunakan untuk membaca buku, berdiskusi dengan sahabat tentang ilmu pengetahuan, menganalisis informasi aktual, melakukan riset sederhana, menulis buku atau karya ilmiah lainnya, membuat proposal, membuat laporan hasil penelitian,  mempermahir skil dan sebagainya yang menunjang pengembangan akademik individual mahasiswa. Perlu diingat bahwa mahasiswa hanya punya waktu minimal empat tahun dan maksimal tujuh tahun. Kalau waktu bermahasiswa ini tidak digunakan secara efektif, maka indikasi kerugian bakal akan datang. Banyak pengetahuan dan informasi yang terlewatkan secara sia-sia. Mahasiswa dilepas oleh orang tuanya untuk belajar dan menimba ilmu sebanyak-banyaknya kepada dosen dan sumber belajar lainnya dengan harapan sekembalinya di kampung anaknya, tidak hanya menggondol gelar sarjana tetapi juga muatan keilmuan harus penuh di “kepala”. Bukan hanya ikut ramai dalam wisuda tetapi otaknya kosong dan nyaris tidak ada ilmu pengetahuan, pengalaman dan skil yang dibawa pulang ke kampung. 

Ketujuh, Newcomers harus memanfaatkan fasilitas kampus dengan baik. Kampus UINRI telah menyediakan fasilitas beragam untuk mahasiswa. Tergantung pada mahasiswa dalam pemanfaatannya. Fasilitas yang disediakan mulai dari yang bersifat manual hingga yang berbasis digital; perangkat keras hingga perangkat lunak. Semua telah tersedia dan digunakan untuk kepentingan akademik mahasiswa. Kampus UINRI memiliki Ballroom yang di dalamnya terdiri dari bilik-bilik yang siap menampung dan membentuk kompetensi mahasiswa. Ada ruangan metaverse, e-commerce, podcast, broadcast, televisi, lab bahasa asing, dan amphiteater. Terdapat pula pusat laboratorium, yakni lab fisika, biologi, peradilan semu, lab akuntansi syariah, mini bank syariah, lab micro teaching, dan lab komunikasi. Tidak ketinggalan pula fasilitas olah raga berupa Gedung Olah Raga (GOR) yang di dalamnya terdapat lapangan futsal dan bulutangkis, lapangan volley, tenis, dan takraw. Mahasiswa dapat memanfaatkannya secara terprogram. Oleh karena cukup lengkapnya fasilitas yang disediakan sehingga siswa MTS/SMP dan MA/SMA banyak yang melakukan kunjungan edutourism di kampus UINRI. Mahasiswa tidak boleh kalah dengan siswa menengah. Mahasiswa harus bisa menunjukan keaktifan mereka dalam memanfaatkan fasilitas kampus agar kognisi, afeksi, konasi dan psikomotorik mereka benar-benar terasah dengan baik.(*)

Baca Juga :