Prof. Dr. Husain Insawan, M.Ag - Rektor IAIN Kendari
Segala intrik dan taktik diperagakan oleh Tim Sukses masing-masing calon Ketua Umum PBNU Periode 2026-2031. Mulai dari sistem karantina, “mengajak kabur”, hingga teranyar permainan di media online. Intrik dan taktik ini bukannya tanpa akibat. Sistem karantina membuat Tim Sukses calon lain agak susah untuk mendekat dan meminta dukungan suara dari PC/PW yang dituju. “Mengajak kabur” dari dukungan pun dilakukan. Dan ini terlihat sejak persiapan pemberangkatan hingga tetibanya di bandara. Bila ketua rombongan tidak hati-hati, maka PW/PC-nya bisa diajak kabur untuk memastikan dukungannya berbalik kepada yang calon lain. Demikian pula taktik memainkan isu di media terbilang sangat berhasil karena terdapat calon yang dipandang “kuat” harus menghentikan langkahnya menuju 01-PBNU akibat terpaan media yang mendera dan membuat “istana” harus angkat suara. Walhasil calon dimaksud harus “balik kanan” untuk berkonsentrasi pada tugas yang diberikan oleh negara selama ini kepadanya. Mungkin juga ada seabrek fenomena yang ditemukan pada lokus dan tempus di seputaran muktamar yang tidak sempat terekam. Begitulah perwajahan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama 2026.
Muktamar kali ini dinilai sebagai muktamar yang paling banyak menyedot perhatian karena diasumsikan tidak ada “pesanan istana”. Kalau pun ada kemungkinan hanya sinyal-sinyal kecil saja yang belum tentu dukungan itu mengarah kepadanya. Diasumsikan bahwa “istana” nampaknya tidak mau mengambil risiko atas pencalonan Ketua Umum PBNU 2026. Semua calon di mata istana dipandang sama. Siapa saja calon yang terpilih pada akhirnya akan sowan ke istana. Jadi tidak perlu ikut “bermain” dalam muktamar.
Calon yang diusung pun terbilang cukup banyak hingga mencapai 8 orang. Padahal biasanya hanya 3 atau 4 orang saja. Itupun mengerucut sisa 2 orang saja menjelang agenda voting. Ini boleh dikata 100% atau duakali lipatnya. Artinya muktamar sekarang dipandang seolah-olah tidak ada petahana, sehingga banyak calon yang dengan berani mendapuk diri untuk menjadi calon atau dicalonkan oleh Tim Sukses. Yang penting siap lahir batin.
Para calon akan berupaya sekuat tenaga untuk mendapatkan suara kemenangan yang bersumber dari 556 Daftar Pemilih Tetap PW/PC. Ditambah dengan suara dari PCLN. Pemilihan diperkirakan akan ditempuh berjenjang mulai dari pemilihan bakal calon dan pemilihan calon secara final. Bakal calon yang mengantongi minimal 99 suara akan berhak masuk sebagai calon pada putaran berikutnya. Calon yang memiliki suara tertinggi pada putaran kedua, maka langsung ditetapkan sebagai Ketua Umum PBNU Periode 2026-2031. Namun ada pula yang mesti dipertimbangkan dalam pemilihan calon Ketua Umum, yakni sistem Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA). Bakal calon yang dinyatakan lolos dalam pemilihan dengan menggunakan sistem AHWA, berhak untuk dipilih pada tahapan berikutnya.
Yang menarik dalam acara pembukaan perhelatan akbar kaum Nahdliyyin ini adalah persoalan tafsir “angka-angka”. Ketua Panitia sekaligus Steering Committee, Syaifullah Yusuf, yang biasa disapa Gus Ipul, menyampaikan perhitungan “angka-angka”. Bahwa muktamar kali ini adalah muktamar yang ke-35. Tanpa rekayasa ternyata angka 3 dan 5 ketika dijumlahkan menghasilkan angka 8. Angka ini menunjukan Presiden ke-8. Dan angka 8 ini merupakan angka kesenangan dan menjadi simbol keberuntungan Presiden Prabowo Subianto. Tidak mau kalah dengan tafsir angka-angka ini. Petahana Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya menampilkan pula tafsirnya. Petahana menafsirkan bahwa bila kali ini Muktamar ke-35 yang berlangsung 2026 ini, maka Muktamar ke-36 yang akan dihelat tahun 2031 tetap akan kembali dibuka Prabowo Subianto. Ini tidak sekedar pernyataan tegas. Tetapi ini menjadi kiriman sinyal ke Prabowo bahwa bila Gus Yahya terpilih sebagai Ketua Umum PBNU, maka semacam ada garansi bila warga nahdliyyin akan mengarahkan dukungannya pada Prabowo Subianto untuk pemilihan Presiden 2029 nanti. Dan periodisasinya hingga 2034. Artinya Muktamar ke-36 nanti masih dalam periode pemerintahan Prabowo Subianto sebagai Presiden RI.
Tafsir angka-angka ini kemudian menjadi gayung bersambut dengan tafsir yang disampaikan Presiden Prabowo. Beliau mengungkapkan bahwa angka yang paling disenangi adalah angka 8 dan 13. Kalau muktamar ke-35 saat ini mendapatkan angka 8 sebagai penjumlahan dari 3 dan 5, maka muktamar ke-36 nantinya bila dijumlah menghasilkan angka 9 dan ditambah dengan angka 4 sebagai hasil penjumlahan angka 3 dan 1, yang diambil dari angka 31 (tahun 2031). Sedangkan muktamar berikutnya digelar pada tahun 2031, sehingga hasilnya adalah 9 ditambah 4 sama dengan 13. Angka 13 adalah angka keberuntungan bagi Prabowo, di samping angka 8.
Sinyal politik berlanjut dengan permintaan Kartu Anggota pada Gus Yahya yang “belum diberikan”. Entah ini guyonan atau akrobat politik yang disampaikan Prabowo kepada Gus Yahya. Kalimat ini bebas untuk ditafsirkan. Boleh jadi kalimat ini seolah menjadi permintaan dukungan pada Pilpres berikutnya pada Gus Yahya. Kelihatannya sulit diraba tetapi mudah untuk dibaca, bila kita jeli menganalisisnya.
Artikulasi bahasa dan tafsir angka memang menjadi perkara rumit yang sulit ditebak. Tapi begitulah kenyataannya ketika para politisi murni, politisi berwawasan ulama, atau ulama yang berwawasan politik saling bertemu. Kalimat sindiran, pantun, dan signal yang dikirim melalui bahasa menjadi sangat menarik untuk dikaji. Tetapi siapapun calon yang menang adalah untuk kebaikan dan kemajuan Jam’iyyah Nahdlatul Ulama. Selamat bermuktamar. Sukses untuk kemajuan Nahdlatul Ulama dalam memulai kiprahnya di abad kedua Nahdlatul Ulama.
Wallahu a’lam bi al-shawab