-BENAK REKTOR-

CINA-UK PARTNERSHIP

Dipublish Tanggal 30 January 2026 Pukul 13:24 Prof. Dr. Husain Insawan, M.Ag - Rektor IAIN Kendari

Dunia terkejut seketika pada saat Perdana Menteri Inggris, Sir Keir Rodney Starmer tiba-tiba mengunjungi Beijing pada Kamis (29-31/1/26) Ramai media memberitakan seolah tidak ada habisnya, baik di media sosial, media elektronik, maupun media cetak. PM Starmer bertolak ke Cina guna melakukan lawatan kenegaraan selama tiga hari ke Beijing. Hari yang cukup lama untuk ukuran seorang kepala negara. Misi PM Starmer tidak lain adalah untuk membuka kembali kran partnership, terutama di bidang ekonomi dengan Cina. Relasi yang terbangun di antara kedua negara memperlihatkan itikad yang sangat baik. PM Starmer bertolak ke Beijing guna mengklaim sebanyak mungkin trading and investation agreement dengan Cina. Lawatan ini menjadi langkah strategis untuk menata kembali partnership antara Inggris-Cina di tengah ketidakpastian geopolitik transnasional yang menghangat. Partnership ekonomi antara Cina-Inggris di awal 2026 ini mengalami rekonstruksi ke arah yang lebih pragmatis-positif. Hal tersebut terlihat dalam beberapa poin penting kesepakatan yang tercapai di antaranya: 

Pertama, Pemulihan Hubungan Bilateral. Sejarah telah terukir karena terjadi pemulihan hubungan antara Inggris dan Cina yang selama ini mengalami kebuntuan. PM Starmer menyatakan bahwa saat ini merupakan momentum yang sangat bersejarah bagi kedua negara. Pertemuan tingkat kenegaraan antara PM Starmer dan Presiden Xi Jinping menjadi lawatan pertama PM Inggris ke negara tirai bambu itu, sekaligus menyudahi ketegangan hubungan selama delapan tahun berlalu. Lawatan ini dilakukan dengan pendekatan yang penuh dengan kelembutan dan berhati-hati agar hubungan kedua negara menjadi cair, meskipun masih ada faktor keamanan nasional juga yang harus tetap terjaga. Hal ini terlihat ketika masing-masing delegasi menyampaikan misi ekonominya.

Kedua, Pencapaian Target Investasi dan Bisnis. Upaya pencapaian target investasi dan bisnis 2026, yang mana sebelumnya pada neraca trading dan investasi di 2025 berkisar 103,7 miliar USD dengan perdagangan jasa diperkirakan melampaui 30 miliar USD. PM Starmer dan Presiden Xi Jinping sepakat untuk menargetkan bahwa peningkatan perdagangan harus berjalan secara lebih seimbang. Cina akan fokus pada peningkatan market acces, sedangkan Inggris memusatkan perhatiannya pada ekspor jasa.

Ketiga, Investasi yang Besar. Inggris akan berinvestasi secara besar-besaran di Cina. AstraZeneca adalah salah satu perusahaan besar Inggris yang bergerak di bidang kesehatan dan bioteknologi yang telah beroperasi di Cina berkomitmen untuk menanamkan investasi sebesar 15 miliar USD hingga tahun 2030.Angka ini bukan angka yang sedikit dan bukan waktu yang sebentar. Dan masih ada beberapa lagi perusahaan besar Inggris yang menjalankan bisnisnya di Cina. Langkah PM Starmer untuk berinvestasi di Cina disambut baik oleh Presiden Xi Jinping karena akan menambah devisa bagi negara. 

Keempat, Perluasan Bidang Kerjasama. Kedua negara sepakat memperluas kerja sama mengenai green and blue economy. Ekonomi hijau menjadikan pertanian sebagai sektor utama dalam pengelolaan sumber daya dan pemanfaatan hutan secara lebih bertanggung jawab. Ekonomi biru yang dikelola secara efektif dan bermanfaat yang berasal dari sumber daya maritim. Demikian pula aspek energi terbarukan yang mengelola limbah manusia dan hewan menjadi sumber listrik dan energi. Atau sinar matahari yang ditangkap dengan menggunakan panel surya. Termasuk teknologi artificial inteligence yang dapat lebih membantu dan mempermudah pekerjaan manusia. Begitu pula dengan layanan keuangan yang lebih mudah diakses tanpa khawatir terjadi penyimpangan. Kerjasama bidang pendidikan guna menghasilkan human resources yang profesional, serta kerjasama kesehatan untuk menyiapkan generasi yang sehat dan kuat.

Kelima, Pembebasan Visa. Lahirnya kebijakan Cina untuk membebaskan visa kunjungan ke negaranya bagi orang-orang Inggris selama 2026. Sebagai terobosan baru untuk mempermudah pebisnis dan wisatawan bebas masuk ke Cina tanpa visa. Sungguh menjadi sebuah apresiasi yang sangat tinggi bagi warga Britania Raya untuk masuk ke Cina tanpa khawatir harus menyediakan visa. Sebaliknya Cina berharap demikian karena mereka sudah memprediksi bahwa Inggris merupakan pintu masuk dan jantung dari Uni Eropa. Siapa yang mampu meyakinkan Inggris, maka mudah baginya untuk berekspansi secara ekonomi di Eropa. 

Keenam, Geopolitik Menguntungkan. Pada aspek geopolitik, PM Starmer dipandang cukup berani oleh Trump yang sudah memperingatkannya agar tidak menjalin hubungan ekonomi dengan Cina karena dianggapnya banyak risiko. Softly Approch yang ditempuh kedua negara dipandang sebagai pendekatan independen yang mendukung pertumbuhan ekonomi Cina-Inggris.PM Starmer merapat ke Xi Jinping bukan tanpa alasan secara geopolitik. Starmer ingin mempertegas sikapnya kepada Trump bahwa Ia bersikukuh pada sikapnya menolak okupasi yang dilakukan USA terhadap Greenland. Sikap Starmer ini sama dengan sikap yang ditunjukkan Xi Jinping. Jadi posisi kedua pemimpin dunia ini saling menguatkan terkait Greenland. USA dipandang semena-mena kepada negara lain. Jika ini dibiarkan, bukan hal mustahil bila suatu saat akan menginvasi Amerika Latin, Timur Tengah, Asia atau Afrika, bahkan pada tingkat tertentu dapat menginvasi UK. Sebab dalam hitungan kekuatan militer, USA jauh lebih kuat ketimbang UK. Respon negatif ditunjukan Starmer terhadap Trump yang berniat menganeksasi Greenland yaitu dengan membatalkan kunjungan kenegaraan Raja Charles ke USA dan akan memboikot penyelenggaraan Piala Dunia 2026 yang akan berlangsung di USA. Oleh karena itu, dengan lawatan ke Cina, UK seolah menambah kawan dan mendapat perlindungan guna membatasi kesewenang-wenangan USA. 

Ketujuh, Pengurangan Tarif Impor. Cina-Inggris berencana untuk mengurangi tarif impor pada produk tertentu, seperti kendaraan listrik dan minyak canola guna meningkatkan perdagangan bilateral. Cina telah menjadi mitra bisnis yang solid bagi Inggris, dengan investasi yang meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pengurangan tarif impor ini berdampak positif bagi raupan keuntungan bisnis yang dijalankan kedua negara. Mereka tidak perlu larut lebih dalam terhadap langkah Trump yang selalu mempermainkan tarif impor sesuka hati. 

Selanjutnya muncul pertanyaan kemudian, siapa sesungguhnya Sir Keir Rodney Starmer itu? Kenapa Ia begitu mudah menjalin hubungan bilateral dengan Cina. Bukankah UK dan USA bersekutu? Mengapa Starmer terkesan hendak merenggangkan hubungan dengan Washington. Starmer adalah Perdana Menteri Inggris berusia 64 tahun. PM Starmer merupakan Ketua Partai Buruh yang telah dijabatnya sejak 6 tahun lalu. Ia menjadi anggota parlemen Halborn dan St. Pancras sejak 2015. Secara ideologis, Starmer diidentifikasi sebagai seorang sosialis dan dikelompokan sebagai kader Partai Buruh sayap kiri yang berhaluan lembut. Artinya Starmer meski sosialis tapi cenderung lebih moderat. Moderatisme idiologi inilah yang dianut Starmer sehingga dengan mudah membawanya ke negeri panda. Perjumpaan ideologi sesama sosialisme, telah menjadikan kedua pemimpin ini semakin erat dan memperkuat hubungan bilateral di antara kedua negara. Presiden Xi Jinping di satu sisi, beridiologi sosialis, sedangkan pada sisi yang lain, PM Starmer beridiologi sosialis. Berbeda halnya dengan Donald Trump yang sulit bertemu pikiran dengan Starmer karena Trump beridiologi kapitalis. Sesungguhnya lebih rumit ketika Starmer bertemu Trump ketimbang Starmer bertemu dengan Xi Jinping. Meski keduanya, Starmer dan Trump bersekutu tapi terdapat perbedaan tajam dari sisi idiologis, laiknya kutub utara dan kutub selatan. Trump berasal dari Partai Republik yang konservatif, sedangkan Starmer pimpinan Partai Buruh yang sosialis. Makanya tidak heran manakala Starmer terkesan mengabaikan bujukan Trump untuk tidak mengunjungi Cina. Meski baru melakukan kunjungan kenegaraan, Trump lupa kalau Starmer dan Xi Jinping sudah sejak lama berjumpa dan saling mengunjungi secara idiologis, yakni sama-sama beridiologi sosialis.

Kedatangan Starmer ke negeri pemilik tembok raksasa tersebut dipandang tidak hanya membawa misi ekonomi, tetapi lebih dalam dinilai sebagai sebuah manuver politik. Starmer berupaya untuk menjadi nomor satu di Eropa, sekaligus merebut hati para elit politik Eropa agar bersimpati kepadanya, yang selama ini para tokoh itu masih hidup berada di bawah bayang-bayang Trump. Starmer mencoba untuk mengeluarkan Inggris dari hegemoni USA. Great Britain sebetulnya  merasa gerah atas kebijakan ekonomi dan politik yang dimainkan USA. Trump merasa superior dan one man show in the world. Padahal secara historis, USA terbangun karena ada andil Britania Raya di sana. Kegerahan inilah yang menjadi pemicu utama mengapa kemudian Starmer mengambil langkah kilat menuju Beijing untuk membangun kerjasama ekonomi dalam segmentasi yang lebih luas. 

Dalam perspektif Starmer bahwa Eropa telah kehilangan figur yang dapat diandalkan untuk bersanding, bahkan kalau perlu harus mampu bertanding dengan Trump. Peran inilah yang sementara dimainkan Starmer. Dan bagi Xi Jinping memanfaatkan Starmer sebagai pion di Eropa, sekaligus lawan tanding bagi Trump jauh lebih menguntungkan. Begitu juga sebaliknya, Starmer memandang bahwa Cina adalah lawan yang sepadan bagi USA hari ini. Jadi keduanya berkolaborasi untuk saling memanfaatkan dalam kerangka memupus hegemoni Trump di dunia, khususnya di Asia dan Eropa.(*)

Baca Juga :