-BENAK REKTOR-

MENCERMATI PERGERAKAN RUPIAH DARI 6 JULI – 11 JULI 2026

Dipublish Tanggal 06 October 2026 Pukul 13:41 Prof. Dr. Husain Insawan, M.Ag - Rektor IAIN Kendari

Artikel ini merupakan hasil penelusuran data dan informasi tentang pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS yang didapatkan melalui media online dan cetak, kemudian didiskusikan bersama mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam. Artikel ini terhitung sebagai tugas mandiri yang diberikan sekaligus menjadi bentuk apresiasi atas upaya mahasiswa dalam mengamati pergerakan rupiah.

Pada 6 Juli 2026  posisi IDR melemah atau terdepresiasi. Data Bloomberg menyebutkan bahwa Senin 6 Juli 2026, rupiah berada di level Rp 17.992 per AS. Mata uang Garuda tersebut turun 29 poin atau setara 0,16 % dari Rp 17.963 per AS pada penutup perdagangan sebelumnya.
Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp 17.955 per AS. Rupiah bergerak melemah dibandingkan permbukaan perdagangan Jumat sebelumnya.

Melemahnya posisi IDR ini disebabkan oleh faktor eksternal dan internal yang menyertai. Secara eksternal, melemahnya IDR dipengaruhi Dolar AS yang mendapat dukungan dari antisipasi pasar terhadap data ekonomi Amerika Serikat, terutama data ISM Services. Data ekonomi AS yang kuat dapat meningkatkan perkiraan bahwa suku bunga AS akan tetap tinggi sehingga mendukung dolar. Sedangkan secara internal dipengaruhi oleh pelaku pasar yang menunggu data cadangan devisa Indonesia. Kekhawatiran terhadap penurunan cadangan devisa dapat membatasi penguatan rupiah. 

Sementara itu, pada 7 Juli 2026 IDR menguat atau terapresiasi. Berdasarkan data pasar spot dan referensi JISDOR Bank Indonesia berada sekitar Rp17.988 AS, sedangkan rupiah di pasar spot ditutup sekitar Rp17.980 per AS. Artinya, rupiah sedikit menguat dibandingkan hari sebelumnya. Faktor eksternal yang mempengaruhinya adalah adanya tekanan terhadap dolar yang sedikit berkurang sehingga memberikan ruang bagi mata uang regional, termasuk rupiah, untuk mengalami penguatan teknis. Dan faktor internal dipengaruhi oleh kondisi cadangan devisa Indonesia yang meningkat menjadi US$145,6 miliar pada akhir Juni 2026. Informasi tersebut memberikan sentimen positif karena menunjukkan kemampuan eksternal Indonesia yang lebih kuat.

Lalu pada 8 Juli 2026 posisi rupiah elemah berdasarkan hasil perdagangan di pasar spot pada hingga pukul 14.18 WIB, rupiah ditransaksikan di Rp 18.014 per dolar AS. Posisi itu melemah 34 poin atau 0,19 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 17.980 per dolar AS. Sementara jika berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp 17.988 pada Selasa, 7 Juli 2026. Posisi rupiah itu menguat 11 poin dari kurs sebelumnya di level 17.999 pada perdagangan Senin, 6 Juli 2026.

Sedangkan secara eksternal, pengaruh terbesar adalah masih awetnya eskalasi konflik Amerika Serikat–Iran. Serangan AS terhadap Iran meningkatkan ketidakpastian geopolitik dan mendorong investor mencari aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS. Ketegangan di sekitar Selat Hormuz juga meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi. Namun secara internal, sentimen domestik juga ikut menekan rupiah. Salah satunya adalah penurunan Indeks Keyakinan Konsumen Indonesia, sementara muncul pula kekhawatiran mengenai kemungkinan perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia oleh S&P Dow Jones.

Posisi rupiah pada 9 Juli 2026 berada pada level melemah secara tajam terhadap dolar AS hingga menembus level baru di atas Rp18.000 per dolar AS. Berdasarkan data pasar spot dan JISDOR, rupiah dibuka melemah di kisaran Rp18.066 hingga Rp18.073 per dolar AS, dan ditutup merosot sekitar 114 poin (0,63%) hingga menyentuh level Rp18.128 per dolar AS. 

Lemahnya posisi rupiah pada hari itu karena secara eksternal konflik geopolitik di Timur Tengah masih berlanjut. Ketegangan AS–Iran dan risiko terhadap perdagangan melalui Selat Hormuz masih menjadi sumber ketidakpastian. Selain itu, pasar tetap memperhatikan kebijakan dan prospek suku bunga Federal Reserve. Secara internal pun pasar Indonesia juga menghadapi sentimen ekonomi domestik yang kurang kuat. Pelaku pasar memperhatikan perkembangan penjualan ritel Indonesia serta kondisi pasar keuangan domestik. 

Sementara pada 10 Juli 2026 posisi rupiah mulai menguat. Mengutip data Bloomberg, Jumat, 10 Juli 2026, rupiah hingga pukul 09.28 WIB berada di level Rp18.061 per USD. Mata uang Garuda tersebut naik 67 poin atau setara 0,37 persen dari Rp18.128 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp18.085 per USD. Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah pada hari ini akan bergerak secara fluktuatif, meski demikian rupiah diprediksi akan melemah.  

Faktor eksternal yang menjadi pengungkit menguatnya nilai tukar mata uang Garuda adalah adanya tekanan geopolitik yang masih berlanjut, namun pasar mulai melakukan penyesuaian/ambil untung setelah pelemahan tajam sebelumnya. Harga minyak juga mengalami penurunan pada 9 Juli karena kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi dan permintaan minyak mengimbangi risiko gangguan pasokan.

Sedangkan faktor internal dari sisi domestik, Bank Indonesia terus melakukan kebijakan stabilisasi pasar valuta asing. Salah satu instrumen yang digunakan adalah Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Pada 9 Juli, misalnya, BI mencatat transaksi DNDF jual sesi sore dengan tenor 1 bulan dan 3 bulan.

Lalu pada 11 Juli 2026 tidak ada data pergerakan rupiah karena 11 Juli 2026 jatuh pada hari Sabtu, yang berada di luar hari bursa reguler (pasar valuta asing di Indonesia beroperasi Senin–Jumat). Baik transaksi di pasar spot maupun kurs referensi JISDOR Bank Indonesia tidak melakukan pencatatan pada akhir pekan.

Karena tidak ada perdagangan baru, posisi rupiah yang dianggap berlaku sepanjang akhir pekan adalah hasil penutupan hari terakhir perdagangan, yaitu Jumat, 10 Juli 2026 di level Rp18.061 per dolar AS. Ini biasa disebut sebagai posisi carry-over (posisi yang "dibawa" dari hari kerja terakhir).

Berdasarkan data dan informasi yang telah diulas sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa selama periode 6 hingga 11 Juli 2026, rupiah secara umum mengalami pelemahan (depresiasi), dengan faktor eksternal — khususnya kebijakan The Fed dan ketegangan geopolitik AS-Iran — menjadi pendorong utama, dibandingkan faktor internal yang sebenarnya sempat menunjukkan sinyal positif melalui kenaikan cadangan devisa.

Wallahu a’lam bi al-shawab

Baca Juga :