-BENAK REKTOR-

ACADEMIC JOURNEY KE WASHINGTON DC

Dipublish Tanggal 22 January 2026 Pukul 06:27 Prof. Dr. Husain Insawan, M.Ag - Rektor IAIN Kendari

Muhibah akademik (academic journey) dalam rangka guest lecturer di USA rasanya kurang afdhal bila tidak menyapa Washington DC (WDC). Siapa yang tidak kenal dengan nama ini. Nama ini diambil dari nama seorang Presiden USA George Washington. Nama yang sangat masyhur. Nama yang juga diabadikan dalam fiat money US Dolar. WDC merupakan salah satu dari Distrik Columbia yang juga menjadi ibu kota Amerika Serikat. Historikal WDC sebagai ibu kota federal sebelumnya, memiliki sejarah yang panjang dan kompleks, di mana pada tahun 1790, Kongres AS mengeluarkan sebuah Undang-Undang Residence Act yang menetapkan bahwa ibu kota federal akan dibangun di sepanjang Sungai Potomac. Pemilihan lokasi ini merupakan hasil kompromi politik antara Thomas Jefferson dan Alexander Hamilton. Jefferson sangat setuju dan mendukung rencana Hamilton untuk mengambil alih utang negara oleh pemerintah federal, dengan catatan ibu kota federal dipindahkan ke bagian Selatan, Amerika. Pada tahun 1791, George Washington memilih lokasi untuk ibu kota federal dan menugaskan Pierre Charles L'Enfant untuk merancang kota tersebut. Setahun kemudian, yakni pada tahun 1792, Distrik Columbia resmi dibentuk, dengan luas sekitar 100 mil persegi atau sekitar 260 km2;. Dan delapan tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1800, pemerintah federal secara resmi dipindahkan dari Philadelphia ke WDC.

Untuk rencana ke WDC, maka keesokan harinya sekira pukul 09.35 kita naik uber menuju Penn Eight Ave yang bersebelahan dengan Moynihan Train Hall semacam pusat kereta untuk menumpangi FlixBus yang akan mengantarkan kita menuju ke WDC. Uber yang ditumpangi melewati Murray Hill, Madison Square Garden, selanjutnya menuju Penn Train New York City (NYC).

Tidak lengkap rasanya kalau sudah di WDC lalu tidak ke White House dan Capitol Building setibanya di sana. Tepat jam 10.10 waktu NYC bus berangkat menuju WDC yang ditempuh sekitar 5 jam. Dua jam kemudian 12.32 kita melewati Pedrick Town, Penns Groove, Delaware River, Wilmington, Newcastle dan akhirnya sampai ke WDC. Dalam perjalanan menuju Penn Eight Ave kita menemukan mobil Triler. Sekedar diketahui bahwa mobil Triler ini adalah buatan Mexico dan memang Mexico banyak memproduksi mobil-mobil besar seperti Triler ini untuk dipasok di wilayah AS. Sekedar informasi bahwa orang-orang Mexico banyak yang menyeberang ke USA menjadi pekerja imigran. Saking banyaknya pekerja imigran Mexico yang bekerja di USA, membuat Donald Trump geram dan ketika menjadi Presiden, Ia menutup perbatasan USA dengan membangun sebuah tembok besar, tinggi, dan panjang yang membelah perbatasan kedua negara.

Memang sebelumnya tembok pemisah antara Amerika Serikat dan Meksiko sudah pernah ada dengan konstruksi bangunan yang berbeda sejak tahun 1980-an, tetapi konstruksi utama dimulai pada tahun 1990-an. Pagar yang bernama pagar Smuggler Gulch, sengaja dibangun sebagai bagian dari proyek pembangunan USA bernilai $60 juta guna membentengi perbatasan kedua negara sepanjang 5,6 km di antara San Diego dan Tijuana. Pada episode selanjutnya, tembok pemisah ini semakin populer ditawarkan ketika Donald Trump mencalonkan diri sebagai presiden USA pada tahun 2015. Trump berjanji untuk membangun tembok yang lebih besar dan lebih kuat di sepanjang perbatasan USA-Meksiko untuk mencegah imigran ilegal dan  memutus perdagangan narkoba antar negara. 

Tepatnya pada tahun 2017, Presiden Trump memerintahkan agar tembok pemisah harus dibangun di tengah tantangan lawan politik dan penolakan warga yang dihadapi sangat banyak, termasuk sengketa anggaran dan masalah lingkungan. Meskipun konstruksi telah dimulai, proyek ini masih berlangsung dan belum selesai sepenuhnya. Nanti pada tahun 2021 pembangunan mengalami moratorium ketika pemerintahan Joe Biden, namun kemudian dilanjutkan dengan beberapa perubahan.

Pembatasan masuk pekerja yang berasal dari Mexico ke USA, tidak hanya sekedar memutus mata rantai perdagangan narkoba dan mencegah masuknya imigran ilegal, tetapi juga untuk mengatasi pengangguran dan membatasi angkatan kerja, terutama pekerja serabutan yang mayoritas berasal dari Mexico. Pemerintah tidak melarang sepenuhnya karena USA adalah negara yang sangat membutuhkan para pekerja kasar. Identik dengan Malaysia yang membutuhkan tenaga kerja dari Indonesia. Kehadiran pekerja Mexico justru lebih memberikan keuntungan bagi USA.

Pukul 15.07 tiba di Union Station WDC pukul 15.35 sore hari dan turun dari bus untuk bergeser mengambil uber lainnya menuju Capitol dan White House. Sebenarnya tidak cukup sekitar 1 km jarak Union Station dengan Capitol namun karena memburu waktu akhirnya kita harus naik bus agar lekas sampai. Kami menumpangi bus yang dikendarai oleh seorang driver perempuan yang dari sini kita mendapatkan informasi bahwa Capitol hanya sekitar 1 km dari halte tempat kita naik bus tadi

Pukul 15.41 kita menginjakkan kaki di seputar wilayah WDC tempat gedung-gedung Senat, DPR, Mahkamah Konstitusi, dan Kongres Amerika berdiri kokoh di sini. Gedung-gedung ini menjadi indikator bahwa di tempat inilah demokrasi dan penegakan konstitusi dimulai dan dibangun. Yang menarik dari itu semua adalah bahwa gedung-gedung tersebut sudah bertahan hampir 600 tahun. Konstruksinya masih kokoh. Dari negara bagian ini suara demokrasi diteriakan dan penegakan konstitusi dipancangkan. Mereka telah banyak belajar mengenai kedua hal tersebut. Dan terbukti ketika kami berada di seputar Capitol ada segerombol demonstran yang menyuarakan pembebasan dan tuntutan kemerdekaan Palestina dari Zionis Israel.

Ada yang menarik ketika mengunjungi White House, yakni berkaitan dengan nama jalan. Terdapat jalan yang bernama CONSTITUTION 100. Dari nama jalannya saja sudah menunjukkan bahwa di seputar White House  terdapat gedung-gedung penegakan hukum seperti mahkamah konstitusi yang berkumpul menjadi satu dengan senat, kongres dan sekretariat kepresidenan.

Terlihat papan plang permanen yang bertuliskan US CAPITOL di mana gedung dewan USA berada. Para pengunjung (visitor) juga dibolehkan untuk mengunjungi dan mengambil gambar di sekitarnya, bahkan di Capitol ini disiapkan fasilitas tempat lewat kepada para difabel untuk berkunjung seperti simbol yang tertera di papan plang tersebut. Jumlah mahasiswa yang datang untuk magang atau sekedar berkunjung dan berdiskusi dengan para senator. Terlihat para senator sangat antusias untuk memberikan informasi baik yang berkaitan dengan keberadaan gedung-gedung besar yang terbangun, maupun  agenda pembahasan yang dilakukan para senator ketika mereka rapat dan bekerja di Capitol. Diketahui bahwa gedung Capitol tidak hanya didominasi oleh anggota senat yang berasal dari Partai Demokrat, tapi juga anggota Partai Republik cukup banyak. Partai Demokrat tentu lebih banyak jumlahnya karena mereka meraih suara terbanyak pada saat pemilihan calon Presiden USA dan menempatkan Joe Biden sebagai pemenang dalam pemilihan. Jadi kebijakan dan regulasi negara banyak dibidani oleh anggota parlemen yang berasal dari partai demokrat. Banyak mahasiswa, pelajar dan masyarakat umum yang datang untuk studi lapangan memperkaya wawasan hukum atau hanya sekedar berkunjung menyaksikan kemegahan Capitol yang dibangun sejak tahun 1800 oleh Presiden George Washington. Gedung ini merupakan salah satu karya arsitektural yang sangat unik di dunia.

Ditemukan pula Papan nama jalan bertuliskan Pennsylvania 1600. Tempat kita berdiri merupakan wilayah Pennsylvania dan angka 39 yang menunjukkan durasi waktu untuk menunggu lewatnya orang menyeberang ke seberang jalanan.

Mumpung tepat berada di depan Capitol, kami membuat video dengan konten pernyataan “IAIN KENDARI GO INTERNASIONAL, IAIN KENDARI MENDUNIA” dengan suara yang tidak terlalu nyaring karena tepat di belakang kami sebelah kiri terdapat segelintir orang membawa bendera Palestina sedang berdemonstrasi menuntut pembebasan Palestina dari serangan Zionis Israel. Akhirnya suara yang kami keluarkan tidak terlalu keras sebagai pertanda kehati-hatian, jangan sampai kita dianggap sebagai bagian dari yang berdemonstrasi itu. Apalagi kami dari lembaga pendidikan tinggi Islam yang diidentikkan dengan lembaga yang menuntut pembebasan rakyat Palestina dari cengkeraman Zionis Israel.

Setelah berkeliling serta ambil gambar dan video di sekitar gedung Capitol, selanjutnya bergerak menuju The White House yang jaraknya sekitar 4-5 km bila ditempuh melalui jalan raya untuk menuju ke sana. Kami menggunakan Uber untuk sampai ke sana dan kebetulan drivernya adalah orang Jepang yang menjadi diaspora di USA. Mobilnya cukup mewah untuk ukuran Indonesia tapi digunakan sebagai Uber untuk mencari uang. Yah….ini Amrik guys. Dalam perjalanan menuju White House terlihat dengan jelas Monumen Washington yang berdiri kokoh berbentuk pena dan bangunan ini termasuk salah satu bangunan tugu yang ikonik di Amerika. Monumen Washington ini hanya bisa kita saksikan dulu lewat acara televisi di era 80-an bertajuk DUNIA DALAM BERITA. Dan kini terlihat nyata di depan mata.

Gedung Putih (The White House) kali ini dijaga super ketat dengan pengawalan militer lengkap dengan mobil tank, mobil anti peluru dan senjata berat, makanya pemandangan White House hanya bisa dilihat dari luar pagar saja yang dirindangi dengan pepohonan. Di sini tempat kerja Presiden Joe Biden yang tidak cukup 100 hari lagi akan digantikan oleh Donald Trump dalam jabatan baru sebagai Presiden, yang sebelumnya pernah pula menjadi Presiden dan kali ini kembali terpilih di 2024. Kebetulan kami berada di USA setelah pemilihan Presiden selesai. Tampak pagar berlapis menyelimuti gedung putih sebagai langkah berjaga-jaga dari serangan terorisme pasca pencaplokan Gaza oleh Militer Zionis Israel yang berdampak pula pada sistem keamanan di USA akibat dukungan penuhnya terhadap Zionis Israel. Tidak hanya itu, pagar berduri dan kendaraan lapis baja pun dikerahkan untuk menjaga Istana Presiden supaya tetap aman hingga waktu pelantikan Presiden baru tiba.

Kami meninggalkan Washington DC sekira magrib dengan menumpangi Uber yang drivernya orang India. Umurnya sudah paruh baya sekitar 60 tahun yang sudah resign dari pegawai pemerintahan. Dia mengenal kami melalui dialek bahasa yang digunakan, secara spontan dia menyebut kami dari Indonesia. Rupanya dia memiliki keluarga India di Malaysia dan sesekali ke Indonesia. Dalam perjalanan pulang kami kembali ke Main Hall Washington Union Station, pusat kereta untuk menuju ke New York City. Driver India kali ini sangat mengenal Amerika dan berkendara selalu mencari jalan yang cepat sehingga kita bisa sampai di Main Hall segera agar tidak ketinggalan kereta. Terkadang driver ini putar berbalik arah untuk mencari jalan yang tidak padat merayap karena maklum pegawai pulang menjelang malam sehingga jalan-jalan di sekitar Washington DC padat merayap. Alhamdulillah pada waktu yang tepat kami tiba di Main Hall selanjutnya menunggu kereta bernama Amtrak yang mengangkut kami menuju NYC. Kereta Amtrak ini merupakan salah satu kereta yang paling digemari penumpang karena aman dan nyaman ditumpangi. Amtrak selalu mengingatkan pembeli tiketnya untuk tepat waktu. Bahkan sampai sekarang pun, notifikasi Amtrak selalu masuk ke email saya menawarkan promosi tiket perjalanan ke seluruh dunia. AMTRAK IS THE BEST TRAIN.(*)

Baca Juga :