-BENAK REKTOR-

MSCI MEMBIDIK SAHAM INDONESIA

Dipublish Tanggal 29 January 2026 Pukul 09:37 Prof. Dr. Husain Insawan, M.Ag - Rektor IAIN Kendari

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dirundung turbulency dahsyat pada perdagangan Indeks komposit dari level 8.975,33 hingga terpuruk ke level 8.393,51. Persoalan ini menarik perhatian Sekretaris Kabinet Indonesia Teddy Indra Wijaya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Investasi Rosan Roeslani serta Kepala BP BUMN Dony Oskaria dan Wamen ESDM Yuliot Tanjung untuk ngopi bersama mendiskusikan persoalan tersebut di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (28/1/2026)

Turbulency harga saham gabungan ini disebabkan Morgan Stanley Capital International (MSCI) menyoroti beberapa masalah terkait transparansi di pasar saham Indonesia. MSCI menilai bahwa struktur kepemilikan saham di banyak emiten Indonesia belum sepenuhnya transparan, sehingga sulit memastikan berapa porsi saham yang benar-benar tersedia untuk diperdagangkan di Indonesia. Ditambah lagi dengan ketidakakuratan perhitungan free float saham Indonesia yang dapat menyebabkan distorsi harga dan mengurangi kepercayaan investor global. Di samping itu, munculnya under-transparancy struktur kepemilikan saham yang membuka kans terjadinya transaksi terkoordinasi yang berpotensi mendistorsi terbentuknya harga yang wajar. Demikian pula transparansi mengenai informasi kepemilikan yang lebih rinci sangat dibutuhkan untuk mendukung penilaian free float yang kokoh. Beberapa problem ini menyebabkan MSCI membekukan sementara rebalancing indeks saham Indonesia dan berpotensi menurunkan bobot saham Indonesia di indeks pasar berkembang.

Pada konteks yang lain, perilaku perdagangan terkoordinasi yang ikut disoroti MSCI dalam konteks pasar saham Indonesia yang merujuk pada praktik perdagangan saham dilakukan oleh pihak-pihak terkait atau memiliki kepentingan bersama, dengan tujuan untuk mempengaruhi harga saham atau menciptakan kesan aktivitas perdagangan yang bertransaksi. Transaksi saham antara pihak terkait yang memiliki hubungan keluarga menjadi objek yang dikritisi oleh MSCI.  Adanya upaya manipulasi harga saham tidak luput dari tatapan sinis dari MSCI. Praktik perdagangan yang bertujuan untuk mempengaruhi harga saham, seperti dengan melakukan transaksi besar-besaran pada harga tertentu untuk menciptakan kesan permintaan atau penawaran yang tidak sebenarnya. Demikian pula dengan sistem perdagangan saham yang tidak berdasarkan pada analisis fundamental, tetapi justru lebih pada kesepakatan atau koordinasi di antara pihak terkait.

Dari masalah ini muncul sebuah pertanyaan, bagaimana dampak dari perdagangan terkoordinasi itu? Jawabannya adalah: Pertama, bahwa perilaku perdagangan terkoordinasi dapat mengganggu proses pembentukan harga yang wajar di pasar saham, sehingga harga saham tidak mencerminkan nilai sebenarnya dari perusahaan. Kedua, bahwa erilaku perdagangan terkoordinasi dapat mengurangi kepercayaan investor terhadap pasar saham, sehingga dapat menghambat pertumbuhan pasar saham dan ekonomi. Ketiga, perilaku perdagangan terkoordinasi dapat merugikan investor yang tidak terlibat dalam praktik tersebut, karena mereka tidak memiliki informasi yang sama dengan pihak-pihak yang terkait. Keempat, Indonesia berpotensi menjadi negara dengan kategori Frontier Market yang akibatnya dapat memicu tekanan jual yang sangat signifikan, sehingga arus dana bisa hengkang sekira lebih dari 10 miliar USD, bahkan arus dana dari saham- saham terbesar akan kabur sekira 100 juta USD per saham. Dengan demikian, perilaku perdagangan terkoordinasi merupakan masalah serius yang perlu diatasi agar tidak terjadi distrust investor dan tetap menjaga integritas pasar saham. Langkah yang dilakukan MSCI ini sangat menggetarkan nadi ekonomi dan moneter Indonesia yang memaksa para menteri terkait bergegas mengambil kiat strategis untuk mengatasinya.

Bagi yang belum familiar dengan MSCI, mungkin akan bertanya dalam benaknya, siapakah MSCI itu, sebegitu hebatkah dia, dan sekuat apakah dia. Sebagaimana diketahui bahwa MSCI adalah sebuah perusahaan penyedia indeks dan analisis investasi global yang berbasis di Amerika Serikat. Perusahaan ini terkenal karena indeks pasar sahamnya yang melacak kinerja pasar saham di seluruh dunia. Indeks MSCI menawarkan berbagai indeks pasar saham yang melacak kinerja pasar saham di berbagai negara, wilayah, dan sektor industri. Indeks MSCI digunakan sebagai benchmark untuk kinerja portofolio investasi dan sebagai dasar untuk produk investasi seperti ETF (Exchange-Traded Fund) dan reksa dana. 

MSCI memiliki otoritas untuk mengklasifikasi pasar yang disebutnya Pasar Maju (Developed Market) yakni negara-negara maju yang melakukan jual beli saham, seperti Amerika,Jepang, Cina, dan negara-negara Eropa Barat. Lalu ada Pasar Berkembang (Emerging Market) yang melakukan trading saham di negara-negara berkembang seperti Indonesia, India, dan Brasil. Kemudian Pasar Perbatasan (Frontier Market) yang melakukan perdagangan saham di negara-negara yang masih dalam tahap awal pembangunan ekonomi. Indonesia bisa turun level dalam kategori ini bila MSCI menilai Indonesia selalu tidak transparan dan kerap melakukan perdagangan terkoordinasi. 

Kehadiran Indeks MSCI sangat urgen yang digunakan oleh para investor dan manajer investasi untuk mengevaluasi kinerja portofolio investasi dan membuat keputusan investasi yang lebih informatif serta mampu mengukur kinerja pasar saham di berbagai negara dan wilayah. MSCI memainkan peran penting dalam dunia investasi global dengan menyediakan indeks dan analisis yang akurat dan dapat diandalkan. Oleh karena itu, agar perusahaan pemilik saham dan pasar saham di Indonesia tidak disasar MSCI dan mengalami distrust, maka wajib mengedepankan prinsip transparansi dalam perdagangan saham dan menghindarkan diri dari sistem perdagangan terkoordinasi. Dua hal penting ini harus selalu dijaga, sehingga fundamental ekonomi dan sistem moneter Indonesia tetap kokoh dan tidak terganggu. Wallahu a’lam bi al-shawab.(*)

Baca Juga :