Prof. Dr. Husain Insawan, M.Ag - Rektor IAIN Kendari
Pada 29 Juli 2026 Rupiah ditutup melemah ke level Rp. 18.079 per USD. Sebelumnya sempat menguat tipis ke Rp18.073 per USD menjelang pengumuman hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed. Jadi secara umum Rupiah masih bertahan di atas level Rp18.000 dan masih tertekan. Pagi 30 Juli 2026 Rupiah melemah ke Rp18.040 per USD. Secara umum Rupiah masih tertekan di level Rp18.000-an. Tekanan ini berlanjut karena harga minyak global tinggi dan sentimen kebijakan The Fed. Kondisi ini dipengaruhi oleh faktor internal, yakni:
Pertama, masih terpengaruh dengan pengunduran diri bank sentral. Faktor dari dalam negeri yang paling disorot adalah transisi kepemimpinan Bank Indonesia. Gubernur BI Perry Warjiyo mengundurkan diri sehingga menimbulkan kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan moneter ke depan. Untuk meredam sentimen ini, beberapa pejabat memberi pernyataan. Menko Airlangga menegaskan BI tetap solid dan independen. Purbaya juga menyebut kebijakan tetap solid. Komisi XI DPR memastikan pengunduran diri Perry tidak akan mengganggu stabilitas moneter.
Selain itu BI juga disebut mengoptimalkan instrumen moneter demi menjaga stabilitas IDR. Dari sisi lain ada juga isu domestik seperti perhitungan harga keekonomian Pertamax oleh ESDM dan kerja sama ekonomi Indonesia-Jepang.
Kedua, pengaruh juga datang dari kebijakan dan program pemerintah. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) turut mempengaruhi volatilitas IDR terhadap USD. Program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) juga yang disebut menjadi peluang besar bagi generasi muda untuk berkreasi. Prabowo juga mempelajari jurus India membangun 3 juta rumah setahun untuk memenuhi kebutuhan properti masyarakat. Program pemerintah ini turut memberikan andil yang siginifikan, terutama bagi pendapatan masyarakat.
Ketiga, pembukaan Blok Masela yang mulai dibangun disebut menjadi lompatan besar bagi ketahanan energi dalam rangka memenuhi kebutuhan minyak dalam negeri. Blok ini sempat mengalami kemandekan dalam manajemennya sehingga tidak terlalu signifikan memberikan kontribusi terhadap kebutuhan energi Indonesia. Blok ini sangat potensial untuk dikelola dengan baik, tergantung campur tangan pemerintah yang secara objektif mengelolanya. Dewan Energi Nasional dan Dewan Ekonomi Nasional mesti melirik blok Masela ini dan memaksimalkan eksplorasi dan eksploitasinya, sehingga harapan negara mendapatkan suplai energi dari dalam negeri dapat terpenuhi sebagian.
Keempat, pengaruh statemen pejabat tinggi negara. Misalnya, Menteri Pertanian Amran Sulaiman memberikan penegasan menyangkut pidato Presiden Prabowo terkait Rp. 2 triliun bukan keuntungan tapi menyangkut hak rakyat, sehingga pengamat menilai bahwa kondisi perekonomian Indonesia masih positif. Mentan meluruskan bahwa Rp.2 Triliun itu bukan keuntungan bisnis atau operasional yang wajar dari pabrik penggilingan padi, tetapi lebih merupakan estimasi Presiden atas kerugian negara akibat dari dugaan praktik penipuan mutu. Salah satu modusnya adalah berupa penjualan beras medium yang dilabeli dan dijual sebagai beras premium.
Kelima, adanya program Bank Indonesia tentang penggunaan Quick Respons Indonesian Standard (QRIS) dan digitalisasi ekonomi. BI mendorong QRIS Tap, misalnya untuk bayar transportasi umum cukup dengan menempelkan gadget atau handphone. QRIS sebagai produk anak bangsa harus terus disosialisasikan dan digunakan secara masif agar transaksi rupiah, perputaran uang, dan tingkat penerimaan bank semakin tinggi. QRIS
ini dianggap sebagai ancaman terhadap instrumen transaksi yang menggunakan merek Mastercard dan Visa. Hal ini tentu sangat menguatkan posisi rupiah. Artinya rupiah bisa digunakan di negara manapun di dunia karena menggunakan QRIS. Demikian pula dengan bisnis e-commerce semakin mendapatkan kepercayaan publik. Di samping transaksinya mudah, juga customer tidak perlu mengeluarkan uang hanya untuk membeli barang di Mall atau pasar. Trust publik semakin tinggi sehingga dipandang sebagai kunci bagi penguatan ekonomi digital.
Keenam, pada sektor industri ada desakan agar pernyataan Presiden diikuti kebijakan nyata demi membangkitkan industri perkapalan nasional. Harapan untuk memiliki industri perkapalan sendiri disambut positif oleh para pelaku bisnis kelas elit, namun hal ini harus disertai dengan kesiapan sumber bahan baku pembuatan kapal dan tenaga ahli yang dibutuhkan dalam pembuatan kapal. Pasar menunggu kebijakan yang langsung dieksekusi dalam bentuk kerja nyata.
Ketujuh, para investor masih memilih emas dan USD sebagai upaya safe haven agar IDR yang dimiliki tidak tergerus sampai pada titik yang rasional. Harga emas Antam tercatat naik Rp15 ribu dan tembus di angka Rp2,616 juta per gram. Fakta ini menunjukkan bahwa investor masih mencari aset safe haven di tengah ketidakpastian ekonomi dan energi.
Sementara itu, secara eksternal terdapat beberapa pengaruh, yaitu:
Pertama, keputusan yang diambil dari rapat FOMC The Fed yang membuat pasar bersikap wait and see karena khawatir jangan sampai The Fed masih bersikap hawkish jika inflasi naik. Pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh tentang komitmen AS untuk menjaga stabilitas harga juga terus dipantau oleh pasar.
Kedua, faktor geopolitik dan dampak perang AS-Iran, sehingga Indonesia disarankan melakukan diversifikasi risiko geopolitik dan ekonomi. Dari barang komoditas, harga minyak dunia naik karena ketegangan di Timur Tengah, sementara harga emas Antam justru turun mendekati Rp2,6 juta per gram. Penguatan USD secara global juga menekan nilai mata uang regional Asia termasuk Rupiah.
Ketiga, The Fed mengambil kebijakan suku bunga yang memutuskan bahwa USD mengalami Hawkish. Kebijakan suku bunga The Fed yang hawkish ini jadi salah satu penyebab Rupiah tertekan. Jika kondisinya seperti ini, maka investor global juga masih harus berhati-hati. Langkah Kevin Warsh menaikkan suku bunga dengan maksud para investor melakukan repatriasi USD ke dalam negeri yang semakin membuat IDR mengalami kemerosotan.
Keempat, harga minyak global yang semakin tinggi berakibat pada terkoreksinya nilai tukar rupiah karena beban impor. Krisis energi ini turut dirasakan berlarut-larut oleh Indonesia.
Kelima, saham Meta anjlok di 11% karena belanja artificial intelligence yang semakin tinggi sementara laba merosot. Ini mencerminkan sentimen negatif di bursa global.
Wallahu a’lam bi al-shawab