Prof. Dr. Husain Insawan, M.Ag - Rektor IAIN Kendari
KESAKTIAN PANCASILA
Baru saja kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober 2026 yang ke-61. Pancasila pada 1965 sedang diuji saat itu melalui Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G30SPKI). Gerakan ini didalangi oleh kelompok PKI. Kelompok ini dalam menjalankan aksinya dikenal sadis, brutal, dan seolah tidak mengenal batas-batas kemanusiaan. Mereka menghabisi 7 Jenderal yang dikenal sebagai Pahlawan Revolusi. Ada A. Yani, MT. Haryono, S. Parman, R. Soeprapto, DI. Panjaitan, Soetoyo, dan Katamso. Pelakunya melibatkan tim eksekusi dari Pasukan Cakrabirawa di bawah komando Letkol. Untung. Kelompok PKI hendak merebut kekuasaan dari tangan Soekarno dengan jalan kudeta tapi tidak berhasil karena digagalkan oleh Pasukan Angkatan Darat yang dikomandoi Pangkostrad Mayjen. Soeharto. Tidak butuh waktu lama untuk menghabisi PKI beserta antek-anteknya. Kelompok PKI dan organisasi sayapnya seperti Gerakan Wanita Indonesia (GERWANI), Barisan Tani Indonesia (BTI), Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI), Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI) dan Pemuda Rakyat saat itu. Dalam grand skenario yang dibuat, mereka menuntut agar dibentuk Angkatan Kelima terdiri dari buruh dan petani supaya dipersenjatai. Isu Dewan Jenderal yang termuat dalam dokumen Gillcrist menjadi pemicu awalnya untuk meyakinkan Soekarno agar langkah yang dilakukan mendapatkan restu. Isu bahwa para jenderal akan mengambil alih kekuasaan sengaja dibisikkan ke telinga Soekarno. Langkah ini merupakan skenario untuk merebut kekuasaan pemerintahan negara Indonesia dan siap melawan kekuatan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). PKI beridiologi sosialis-komunis yang anggotanya tercatat sekitar 2 juta orang dan ini partai komunis terbesar kedua di luar daratan Cina saat itu. Kebanyakan orang yang terlibat dalam kelompok PKI dan organisasi sayapnya adalah beragama Islam. Tetapi tindakannya dipandang sangat barbar dan beringas. Lalu muncul istilah bahwa mereka "Muslim" tapi "Ateis".
Dua diksi ini sejatinya sangat sering kita dengar. Sebenarnya, bukan lagi menjadi diksi yang seksi untuk didiskusikan. Namun fenomena belakangan ini di beberapa negara Eropa nampak menggema dan di situlah justru diksi ini menjadi menarik untuk dibahas. Tidak hanya karena realita yang terjadi di Barat saja, tetapi juga apa yang sedang terjadi di Timur. Bukan cuma berkenaan dengan batas kawasan, namun merambah pula pada anatomi manusia, mulai dari pola pikir, sikap, hingga perilaku manusia. Tidak hanya menyoal dan masa kini, tetapi juga menyoroti masa lalu.
Diksi “muslim” berasal dari Bahasa Arab yaitu “aslama” yang berarti “keselamatan, taat, patuh, tunduk, dan berserah diri”. Dalam hal ini, ketaatan, kepatuhan, ketundukan, dan keberserahdirian kepada Tuhan. Atau bermakna pul selamat dari sesuatu yang menyesatkan. Sedangkan “muslim” menunjuk pada “pelaku atau orang”. Jadi “muslim” berarti orang yang mencari dan menempuh jalan keselamatan atau orang yang taat, patuh, tunduk, dan berserah diri kepada Tuhan. Diksi “muslim” sesungguhnya selalu berkonotasi dengan sesuatu yang baik, benar, etis, adil, bermoral, bermartabat, dan bermanfaat. Singkat kata “muslim” adalah orang yang niat, pikiran, sikap, perbuatan, dan dampak yang ditimbulkannya selalu bersifat positif dari perspektif manapun, baik perspektif agama, sosial, etika, adat, budaya, maupun hukum positif.
Sedangkan diksi “ateis”, secara formal artinya tidak ber-Tuhan. “Ateis” bermakna tidak meyakini adanya Tuhan. Dalam konteks ini, tidak mengakui adanya Tuhan Yang Maha Kuasa yang menguasai alam semesta. Tidak percaya kepada Tuhan Yang Maha Pengatur, yang mengatur semua makhluk yang ada di langit dan di bumi, bahkan mengatur segala yang hidup dan yang mati, menentukan skenario hidup di dunia dan di akhirat. Semua yang berkaitan dengan keterlibatan Tuhan, tidak diakui dan diyakini. “Ateis” ini sejatinya kontradiksi dengan “muslim”. Jika “ateis” diklaim sebagai orang yang tidak meyakini Tuhan, maka “muslim” sangat meyakini eksistensi Tuhan.
TUHAN DAN KEBERTUHANAN
“Tuhan” adalah Zat yang disembah oleh makhluk-Nya. Dia tidak mengambil tempat, tapi Dia ada di mana-mana. Dia tidak terikat oleh waktu, tetapi Dia hadir dalam waktu kapanpun. Dia tidak tergantung pada kedimanaan dan kekapanan. Dia menjadi tujuan dari segala bentuk penghambaan dan penyembahan tanpa mempersekutukan-Nya dengan sesuatu yang lain. Tuhan adalah Khalik dan selain-Nya adalah makhluk. Tuhan menjadi Pencipta segala sesuatu dan makhluk adalah segala yang diciptakan Tuhan. Sedangkan “Kebertuhanan” adalah hal-hal yang berkenaan dengan sifat dan keadaan Tuhan. Bisa pula bermakna menjalankan ajaran-ajaran Tuhan. Yang mana ajaran Tuhan itu? Ajaran Tuhan termaktub dalam teks kitab suci agama atau teks budaya yang hidup di tengah masyarakat, namun tidak bertentangan dengan moral dan norma yang baik. Teks kitab suci dan teks budaya ini disampaikan dan dititahkan kepada umat manusia melalui Rasul-Nya atau orang-orang pilihan-Nya.
Dengan demikian, berbeda antara “Tuhan” dan “Kebertuhanan”. Tuhan menyangkut “Kedirian Tuhan”, sedangkan Kebertuhanan berkaitan dengan ajaran-ajaran kebaikan untuk manusia yang berasal dari Tuhan. Ajaran-ajaran ini harus dapat dipahami dan dipraktikkan manusia dengan cara dan ritual yang berbeda-beda. Pengimplementasiannya dijalankan oleh setiap orang, tanpa mengenal DNA, agama, ras, kasta, ataupun kawasan. Siapapun dia yang beragama harus menjalankan ajaran-ajaran Tuhan tersebut. Orang-orang yang menjalankan ajaran agamanya, dengan dan atas nama agama atau keyakinan apapun dipandang sebagai seorang muslim. Mengapa? Karena seorang muslim itu adalah yang taat, tunduk, patuh, dan berserah diri kepada Tuhan dengan menjalankan esensi ajaran-ajaran-Nya untuk mendapatkan keselamatan di dunia dan di akhirat. Keselamatan ini tidak hanya berlaku dan didapatkan oleh satu agama saja, tetapi berlaku bagi semua agama. Tidak dimonopoli oleh satu keyakinan tertentu saja, tetapi keyakinan lain pun berhak untuk mendapatkannya.
“ATEIS MUSLIM”
“Ateis muslim” maksudnya orang yang tidak mengakui dan meyakini keberadaan Tuhan, tetapi niatnya lurus, pola pikirnya jernih, sikapnya berpihak pada yang benar, dan tindakannya berada pada koridor yang tepat. Orang yang niatnya lurus, pola pikirnya jernih, sikapnya berpihak pada kebenaran, dan tindakannya berada pada koridor yang tepat, layak disebut sebagai muslim. Karena muslim itu selalu tunduk, taat, patuh dan berserah diri hanya kepada Tuhan. Dan konsekuensi dari ketundukan, ketaatan, kepatuhan dan keberserahdirian dalam menjalankan ajaran agamanya itu, sehingga menjadikan dia sebagai orang yang niatnya lurus, pola pikirnya jernih, sikapnya berpihak pada yang benar, dan tindakannya selalu positif. Seorang muslim selalu menginternalisasi dan mengaplikasikan “Kebertuhanan” itu sendiri dalam setiap langkah hidupnya. Jadi simpelnya, seorang muslim itu, meyakini adanya Tuhan, sekaligus Berketuhanan dengan menjalankan ajaran-ajaran Tuhan.
Sekaitan dengan itu, Yudi Latif dalam kesempatan Rakernas Kemenag RI di Jakarta (2025) mencontohkan bahwa orang-orang di negara-negara Skandinavia saat ini sudah banyak yang meninggalkan gereja untuk menjadi Ateis, akan tetapi mereka berperilaku yang mencerminkan sifat-sifat ketuhanan, seperti antikorupsi dan tidak melanggar hukum. Atau dengan kata lain, mereka mempraktikkan Kebertuhanan itu sendiri. Mungkin mereka meninggalkan agamanya disebabkan banyak aturan formil dan ritual keagamaan yang harus dijalankan. Mereka ingin bebas tanpa harus diatur secara kaku oleh ajaran agama secara ketat. Fenomena ini tidak hanya terjadi di negara-negara Skandinavia, tapi juga di negara-negara Eropa yang pada umumnya Kristen, kata Franz Magnis Suseno (2025) bahwa Eropa saat ini semakin ateis. Terutama kalangan cerdik cendekia banyak yang ateis. Steven Hawking yang menjadi idolanya pun ateis. Hawking sendiri mengakui bahwa tidak ada intervensi Tuhan di alam raya ini.
Hal ini menjadi fenomena tersendiri di sana. Sehingga kalau kita telisik dari sisi keyakinan, mereka dinilai ateis, tetapi dari sisi perilakunya, mereka dikategorikan muslim karena mereka berpikir positif, bertutur kata yang baik, menentukan sikap untuk berpihak pada kebenaran, dan bertindak selalu yang positif. Mereka tidak ber-Tuhan, tetapi mereka dipandang Berketuhanan. Tepatnya “ateis muslim”.
“MUSLIM ATEIS”
“Muslim ateis” maksudnya bahwa orang itu beragama, meyakini eksistensi Tuhan dalam kehidupan, berserah diri hanya kepada-Nya, tetapi motif, pola pikir, sikap, dan perbuatannya selalu mengarah pada yang negatif. Kata Yudi Latif “kita beragama, tetapi berperilaku jauh dari cerminan sifat-sifat Tuhan”. Dalam konteks ini kita bisa menjelaskan bahwa kita ber-Tuhan, tetapi terkadang tidak Berketuhanan. Kita mengakui dan meyakini adanya Tuhan, tetapi tidak menjalankan ajaran yang dirisalahkan Tuhan. Ketika kita tidak menjalankan ajaran Tuhan, maka saat itulah kita akan diklaim sebagai ateis dan akhirnya jadilah “muslim ateis”.
Semoga mencerahkan….
Wallahu a’lam bi al-shawab