IAIN Kendari Gelar FGD Validasi Konsep EHRF untuk Pemulihan Kawasan Gunung Bulu Bawakaraeng

Novi Rahmilia 30-06-2026 (10:35:05) Berita 247 times
Gowa, Humas - Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) Validasi Konsep dalam rangka riset Post-Complex Humanitarian Emergency: Ecotheological Humanitarian Restoration Framework (POSTCHE-EHRF).

Kegiatan berlangsung pada 24 Juni 2026 di Baruga Benteng Somba Opu dan dilanjutkan dengan penyusunan rancang tindak lanjut pada 25-27 Juni 2026 di Rumah Adat Mandar, Benteng Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Riset POSTCHE-EHRF merupakan penelitian yang didanai melalui program MoRA The AIR Funds (LPDP) Kementerian Agama RI periode 2025–2027. Penelitian ini dilaksanakan secara kolaboratif oleh IAIN Kendari bersama IAIN Bone, Universitas Negeri Makassar, FISS, Bumi Toala Indonesia, MAPALASTA UIN Alauddin Makassar, dan WIRPALA Politani Pangkep dengan Andi Yaqub sebagai Principal Investigator.

FGD menghadirkan Koordinator Staf Khusus Menteri Agama Bidang Pendidikan, Organisasi Kemasyarakatan, dan Moderasi Beragama, Farid F. Saenong, Ph.D., serta Ketua LPPM UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung sekaligus Reviewer Nasional, Prof. Dr. Ngainun Naim, yang memberikan penguatan mengenai nilai-nilai ekoteologi dalam validasi konsep Ecotheological Humanitarian Restoration Framework (EHRF).

Dalam sambutannya, Ketua LPPM IAIN Kendari Dr. Abdul Kadir, M.Pd., menegaskan bahwa keterlibatan pemangku adat dan tokoh agama menjadi bagian penting dalam memastikan validitas ilmiah sekaligus legitimasi sosial terhadap kerangka pemulihan yang disusun.

"Kehadiran para pemangku adat dan tokoh agama merupakan inti dari keabsahan ikhtiar ilmiah yang dilakukan. Pengetahuan lokal dan nilai-nilai spiritual menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam penyusunan kerangka pemulihan kawasan Bulu Bawakaraeng," ujarnya.

Gunung Bulu Bawakaraeng merupakan kawasan pegunungan yang memiliki kerentanan geomorfologis tinggi sekaligus menyimpan nilai spiritual, sejarah, dan budaya yang kuat. Melalui riset ini, tim peneliti berupaya merumuskan kerangka pemulihan kawasan pascakedaruratan yang mengintegrasikan ekoteologi Islam, pengetahuan adat, geomorfologi, dan tata kelola pelestarian.

Kegiatan ini diikuti sekitar 77 peserta dan 37 peninjau yang berasal dari berbagai unsur, antara lain pemangku adat kawasan Bawakaraeng, tokoh agama, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan beserta dinas teknis, BPBD, Kantor Wilayah Kementerian Agama, BBKSDA Sulawesi Selatan, PUSDAL LH SUMA, organisasi mahasiswa pencinta alam PTKIN, komunitas pencinta alam, akademisi, serta para narasumber ahli.

Selama forum berlangsung, peserta menerapkan pendekatan Participatory Ecotheological Assessment (PEA) melalui paparan hasil survei lapangan, validasi data, dan diskusi terarah pada empat domain utama, yaitu biofisik dan geomorfologi, sosial-spiritual, tata kelola, serta indikator dan sistem pemantauan.

Ketua tim peneliti, Andi Yaqub, menegaskan bahwa FGD ini menjadi ruang kolaborasi berbagai bentuk pengetahuan, bukan sekadar forum akademik.

"FGD ini bukan forum akademisi yang menggurui masyarakat, melainkan ruang pertemuan berbagai bentuk pengetahuan untuk bersama-sama menyusun kerangka pemulihan yang relevan, ilmiah, dan berakar pada nilai-nilai lokal,” ucapnya.

Forum menghasilkan sejumlah rekomendasi penting, di antaranya tervalidasinya komponen inti kerangka pemulihan yang mengintegrasikan ekoteologi Islam, kearifan adat, dan tata kelola pelestarian, teridentifikasinya prioritas titik restorasi beserta batas etika pemanfaatan kawasan sakral, tersusunnya peta aktor dan mekanisme koordinasi lintas lembaga, serta dirumuskannya indikator awal pemantauan pada aspek biofisik, sosial-spiritual, dan tata kelola.

Selain itu, forum juga mengidentifikasi sejumlah situs dan jejak sejarah yang berkaitan dengan peradaban Islam di kawasan Gunung Bulu Bawakaraeng sebagai bagian dari upaya pemetaan kawasan yang memiliki nilai sejarah sekaligus tingkat kerentanan bencana.

Hasil FGD akan menjadi dasar penyempurnaan kerangka pemulihan EHRF serta bahan rekomendasi bagi para pemangku kebijakan. Tim peneliti juga akan menindaklanjuti hasil kegiatan melalui audiensi dengan pemerintah daerah dan penyusunan berbagai luaran ilmiah berupa artikel serta naskah kebijakan sebagai bagian dari target riset periode 2025–2027.

Melalui kegiatan ini, IAIN Kendari menegaskan komitmennya untuk menghasilkan riset yang unggul, kolaboratif, dan berdampak bagi pelestarian lingkungan serta kemaslahatan masyarakat. (yqb/nov)
 
 
 

 

Foto Publikasi

  • Novi Rahmilia 02-07-2026 (08:39:39)
  • Novi Rahmilia 02-07-2026 (08:48:43)
  • Novi Rahmilia 02-07-2026 (08:49:20)