Respon Terhadap Corona

Lily Ulfia, SE 26-03-2020 (07:03:18) Opini 1590 times
Penulis
Prof. Dr. Faizah Binti Awad, M.Pd
Rektor IAIN Kendari

Wabah yang tidak cukup baru namun memiliki sisi kepanikan cukup tinggi ini disebabkan oleh virus Novel Corona (Covid-19). Sejak munculnya Covid-19 masyarakat telah jauh diintervensi  oleh wabah tersebut sehingga melahirkan berbagai perilaku yang bersifat perorangan atau kelompok. Virus yang transmittable ini bukan hanya menimpa bangsa Indonesia tetapi hampir di seluruh belahan dunia. Tak terbantahkan dampak virus ini sangat mengkhawatirkan penyebarannya sangat massif, dari hari ke hari terus mengalami peningkatan yang signifikan dan tidak mengenal siapapun, apapun profesi, jenis kelamin dan usianya. Pada tanggal 26 Maret 2020, jumlah orang yang terinfeksi di indonesia mencapai 893 orang, 78  orang meninggal, dan 35 orang dinyatakan sembuh. 

Berbagai upaya dan kebijakan telah dilakukan pemerintah baik dari pusat maupun daerah untuk menanggulangi atau menyikapi hal ini, mulai dari anjuran pemeriksaan kesehatan, membatasi jarak interaksi antara satu dengan yang lainnya (social distancing), menghindari kerumunan massa, mengedukasi masyarakat untuk senantiasa mencuci tangan dan meningkatkan hidup sehat, hingga mengeluarkan edaran untuk menunda proses belajar mengajar di sekolah, proses pembelajaran di perguruan tinggi juga dilaksanakan secara online (e-learning) serta pimpinan institusi menerbitkan edaran terkait tugas tenaga struktural dilaksanakan di rumah (work from home),  hingga pada himbauan ulama untuk mengganti sholat Jum’at dan sholat lima waktu berjamaah di rumah. 

Ironisnya, peristiwa ini dijadikan momen sebagai media mencemooh  pemerintah  yang sah. Bukan hanya sebatas itu, tetapi ada sebagian masyarakat bahkan para petinggi di negeri ini turut serta melontarkan gagasan-gagasan yang justru menambah kegoncangan dan kepanikan dalam  masyarakat, serta kontroversi terhadap lockdown. 

Seiring dengan kondisi ini pengguna media sosialpun terus memberitakan berbagai bentuk perkembangan penyebaran  Covid–19  dari yang bersifat fakta sampai yang bernuansa hoax dengan desain postingan yang membuat publik semakin penasaran, akibatnya di antara sebagian masyarakat semakin diliputi rasa galau, cemas, panik, dan ketakutan. Paling tidak, ada tiga tipe masyarakat yang dapat ditakar dari perilakunya dalam memberikan respon terhadap virus ini:
Pertama, kelompok yang masa bodoh bahkan tidak meyakini bahwa virus ini sangat berbahaya dan tidak perlu ditakuti. Ini ditunjukkan oleh ungkapan-ungkapan: (a) “  Mengapa kita harus takut kepada corona, seharusnya lebih takut kepada Tuhan daripada kepada corona”. (b) “Masa kita dilarang ketemu dengan orang lain ?”  Himbauan socialdistancing dimaknai sebagai upaya untuk memutuskan silaturrahmi sedang dalam agama Islam dilarang keras memutuskan silaturrahmi. (c) “ini sudah tanda-tanda kiamat, kok sholat jamaah dilarang?” demikian pula himbauan terkait sholat Jum’at, cukup sholat dhuhur di rumah, ungkapannya “seharusnya justru berdoa bersama di masjid akan dijauhkan dari virus corona karena mungkin  diantara yang berkumpul di masjid diterima doanya”, dan masih banyak ungkapan-ungkapan serupa yang dilontarkan sebagian masyarakat yang merupakan gambaran perilaku dalam menyikapi peristiwa ini.       

Kedua, kelompok yang mengakui akan wabah Covid-19 adalah virus yang berbahaya dan harus disikapi secara serius namun arif, tetap tenang dan sabar, sekaligus menelusuri bagaimana solusi pencegahan dan edukasinya melalui akun-akun resmi yang dipublish oleh lembaga profesional dan akuntabel. Mematuhi akan himbauan dengan tertib misalnya  tentang sosial distancing, sesering mungkin melakukan cuci tangan dengan benar, work from home atau stay at home, mempertahankan imunitas dengan memperbanyak konsumsi buah dan sayur dan panganan bernutrisi lainnya yang dapat memboosting stamina tubuh agar tidak terpapar dengan virus berbahaya tersebut. Perilaku seperti ini sebagai indikator bahwa mereka benar-benar sadar terhadap pencegahannya dan perlu dilakukan oleh setiap individu demi kemaslahatan bersama.

Ketiga; kelompok orang yang perilakunya nampak hanyut dan larut  dengan situasi yang sangat fenomenal, heboh di media sosial yang sengaja mem-blow up fakta ini sehingga mengakibatkan gangguan bagi sebagian orang terutama yang memiliki potensi ketidakstabilan jiwa ketika menghadapi sesuatu peristiwa, mudah cemas, tidak menentu, depresi dst, akhirnya senantiasa dihantui oleh perasaan dan pikiran yang berpersepsi dirinya akan termasuk di antara sekian jumlah korban yang ditelan Covid-19. Kategori ini merupakan indikasi kegoncangan batin akibat perasaan yang sangat berlebihan dalam merespon pandemi tersebut. Seolah-olah belum siap untuk menerima realitas kehidupan ini. Albert Ellis dalam teori kepribadiannya mengutarakan, untuk menakar perilaku seseorang ditentukan oleh tiga hal dengan istilah: -  A- B- C - :  (Antecedent;  Belief;  Consequence Emotional) . Huruf A merupakan peristiwa, fakta, tingkah laku atau sikap seseorang sedang C Consekuensi Emosional adalah reaksi emosional  dan B ialah keyakinan individu terhadap A (peristiwa). Belief ini terbagi dua:  yang Rasional dan Irrasional. Teori ini lebih dikenal dengan teori  Rasional Emotive Therapi “RET”

Respon seseorang tentang Covid-19 dengan segala konsekuensinya bagi kelompok kedua, berada pada Belief Rasional, karena memaknai secara normal akan peristiwa ini , mengakui fakta yang harus disikapi secara tenang, wajar dan terkendali. Mematuhi semua himbauan dan edaran yang mengkungkung dirinya terkait dengan penyebaran virus tsb.  Berkaca dari teori RET ini yang dititik beratkan adalah berpikir, menilai, memutuskan , menganalisis dan bertindak. Dengan kata lain lebih banyak bersentuhan dengan dimensi-dimensi pikiran daripada dimensi perasaan. Jika Covid - 19 diyakini secara rasional (Rasional Belief) maka akan dipersepsikan sebagai musibah, cobaan, ujian, dan akhirnya direspon dengan tenang, sabar dan tulus, serta penuh pertimbangan yang logis.

Adapun Belief Irrasional tercermin dalam kategori kelompok Pertama dan Ketiga diatas. Sebagaimana mereka pada posisi ketiga (dalam tulisan ini ), menyikapi Covid-19 dengan sangat berlebihan, penuh ketakutan, kecemasan, atau justru denial akan adanya virus  ini. sebagai karakteristik individu yang anti kenyataan tatkala peristiwa itu menyakiti dirinya. Pada prinsipnya, baik kategori pertama maupun ketiga sama-sama berpikir Irrasional, perbedaanya terdapat pada kategori pertama diakibatkan oleh ketidak tahuan dan minimnya pemahaman mereka terhadap esensi virus tersebut berikut dampaknya, sedang kategori ketiga pikiran Irrasional yang sangat berlebihan sehingga melahirkan kepanikan, kecemasan dst. Namun, kedua-duanya menampilkan perilaku yang salah akibat Irrasional dan hal tersebut bersumber dari hambatan emosional individu-individu itu. Sejatinya setiap orang tetap berpotensi memiliki pikiran Irrasional, tergantung dari kemampuan masing-masing dalam mengelola emosi dan pikirannya.

Perspektif agama, keyakinan terhadap Tuhan juga memberikan rasa damai dalam batin. Kedamaian dan keselamatan merupakan dorongan instingtif manusia melalui berdoa karena  doa itu sendiri  berisi kecenderungan terhadap pertolongan dan perlindungan dari  Tuhan. “Sang Penolong” adalah Tuhan atau “Juru Selamat” adalah Tuhan. Perasaan batinnya diredakan oleh keyakinan bahwa musibah bagian dari ketentuan dan Takdir Tuhan, itulah agama difungsikan sebagai sublimatif sehingga dapat menggeser prasangka negatif menjadi positif.

Virus Covid-19 merupakan sunatullah empiris dan membutuhkan kasab (usaha) manusia dalam pencegahan dan pengobatannya. Selain itu ada pula yang disebut Sunnatullah Transendental yang tak dapat dicegah oleh manusia. Sangat hinalah kita diberi potensi untuk berkasab kemudian tidak memfungsikan kemampuan itu sebagai pembeda dengan makhluk lainnya. Tawarannya adalah, untuk membantu individu yang sejak semula telah memiliki potensi kepribadian Irrasional, hendaknya kita mengkampanyekan solusi pencegahan bernuansa edukatif. Sebaiknya kita menghindari membagikan berita-berita corona yang sangat berlebihan agar tidak memicu pikiran Irrasional seseorang. Menyuguhkan narasi yang menggiring keyakinannya terhadap kekuatan diluar kekuatan makhluk yaitu Sang pencipta, Allah SWT. -  Semoga kita termasuk tipe Rasional Belief dalam merespon VirusCorona (Covid-19) . Wallahua’lambishawaab.,             
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Related Post