Hadirkan Guru Besar New York University dan UGM dalam Program Drakor, IAIN Kendari disebut Produsen Pengetahuan

Lily Ulfia, SE 19-05-2020 (14:16:54) Berita 775 times

Kendari, Humas – Program Daurah Ramadhan Korner atau Drakor kembali digelar, Minggu (17/5/20). Drakor Edisi ke empat terbilang spesial karena menghadirkan pakar ilmu Sejarah dan Antropologi Islam Timur Tengah dari New York University, Prof. Ismail Fajri Alatas, Ph.D Serta Guru Besar Antropologi Universitas Gadjah Madah Yogyakarta Prof. Irwan Abdullah.

Kedua pakar ini membahas topik mengenai budaya dan agama di era post-truth, era dimana kebenaran tidak lagi berlandaskan fakta obyektif, tetapi beralih pada fakta subyektif yang dapat mengikis nilai-nilai kebenaran sesungguhnya. Agama dan budaya sendiri merupakan dua institusi kehidupan yang selalu menarik untuk dibahas. Keduanya mengatur segala sendi kehidupan manusia yang kerap dipertentangkan sebagai dua sisi yang tak dapat didamaikan. Tidak jarang pula keduanya disandingkan secara harmonis di atas kepentingan kedamaian hidup manusia.

Prof. Irwan yang mendapat kesempatan pertama mengawali dengan kalimat apresiasi kepada IAIN Kendari karena telah menginisiasi diskusi dengan topik di atas. Menurutnya topik ini menjadi topik yang menarik tidak saja bagi masyarakat intelektual di Kawasan Timur Indonesia, tetapi juga di Barat Indonesia yang notabene menjadi pusat kajian ilmu pengetahuan di negeri ini.

“Sejak beberapa tahun ini saya mengkampanyekan agar produksi pengetahun itu tidak saja didominasi oleh Indonesia Barat atau pusat, tetapi juga perlu diproduksi dari timur. Saya apresiasi betul kepada rekan-rekan IAIN Kendari karena telah menginisiasi program ini sehingga yang dari Barat juga bisa mengambil hikmahnya,” tuturnya.

Lebih jauh ia menjelaskan, pembahasan era post-truth ini menjadi penting melihat realitas masa kini dimana para tokoh agama kehilangan otoritas atau deotoritasasi akibat pengetahuan agama tidak lagi bertumpu pada standar yang dibuat secara otoritatif oleh para tokoh yang kapasitas keilmuannya tidak diragukan. Pergeseran ini mengakibatkan masyarakat lebih percaya pada para agamawan yang mereka saksikan melalui media digital.

“Sekarang ini kiai, ustadz yang sangat berpengaruh adalah yang menggunakan media internet seperti youtube untuk mengajarkan agama pada publik. Implikasinya adalah Pendidikan Agama pada jalur formal bisa saja ditutup,” jelasnya

Situasi ini selanjutnya akan mengikis tradisi filosofi suatu disiplin keilmuan. Sehingga orang akan terjerumus pada praktik keilmuan semu tanpa ruh dan menjadi fanatik berlebihan.
 
Beliau menyebutkan bahwa produksi pengetahuan di era post-truth bersandar pada tiga hal yaitu citra, kecepatan tayang dan repetisi (pengulangan). Ini menjadi keunggulan bagi penyebar dakwah melalui media digital dan telah berhasil menaklukkan substansi dari suatu ilmu. Ketiga hal ini juga lebih mampu memainkan emosi dan perasaan publik ketimbang signifikansi metodis dari esensi agama atau budaya.

“Sekarang ini belajar agama bisa diakses di insta dakwah atau pengajian lewat youtube. Apa yang hilang? Keteladanan. Dulu keteladanan dari seorang guru dapat kita peroleh secara personal dan mampu mempengaruhi perilaku kita. Sekarang tempat-tempat kajian seperti surau sudah tidak ada lagi, berpindah ke virtual,” tambahnya

Akhirnya, hal yang substansial tidak lagi mendapat perhatian sehingga menghilangkan sikap kritis masyarakat dan mudah digiring pada agenda tertentu.

Guru Besar yang sempat berkunjung ke IAIN Kendari pada beberapa waktu lalu ini juga mengingatkan bahwa umat harus mewaspadai agenda propaganda di balik hal itu. Sebab agama hanya menjadi sarana untuk menjustifikasi paham atau perilaku tertentu. Agama menjadi alat propaganda politik sebab umat bukan lagi sebagai pemeluk agama tetapi menjadi followers.
 
Sementara itu, Ismail Fajrie menyambung bahasan dengan mengulik istilah post-truth itu sendiri. Menurut Assiten Professor di New York University itu, sebelum membahas istilah post-truth terlebih dulu kita wajib memahami istilah truth (kebenaran). Mengacu pada teori epistimologi barat, truth adalah sebuah statement yang akan dianggap benar apabila diskursus/wacana itu memiliki relasi dengan fakta (realitas).
 
Di era sekarang korespondensi antara wacana dan realitas sedikit terguncang disebabkan adanya social media, dimana semua orang bisa bebas mengeluarkan wacana tanpa perlu menghubungkannya dengan fakta empiris. Hal ini menjadikan otoritas keilmuan tidak lagi menjadi milik para saintifik/ilmuwan atau para tokoh yang mendalami bidang ilmu tertentu.

Pada kerangka kajian histroris atau antropologi kita dapat memahami bahwa struktur kebenaran memang bukan hanya milik entitas tertentu. Kebenaran dapat dimiliki oleh hampir setiap komunitas/suku bangsa termasuk dalam hal struktur ilmu pengetahuan juga memiliki struktur kebenaran yang bervariasi sesuai dengan bidang ilmunya misalnya, sains, filosofi, atau agama. 
 
“Begitupun di dalam tradisi epistimologi Islam, kita mengenal adanya lapisan-lapisan kebenaran oleh karena itu subyek kebenaran itu berlapis-lapis sesuai dengan pengetahuan yang ia miliki. Sebagai contoh, kebenaran yang diyakini oleh orang awam akan berbeda dengan kebenaran yang diyakini oleh kaum sufi,” paparnya
 
Akibatnya terjadi kontestasi struktur kebenaran termasuk dalam kasus kajian agama yang digaungkan oleh para agamawan di Indonesia terutama di dunia maya. Kontestasu ini dimenangkan oleh mereka telah berhasil membentuk rezim kebenaran karena mendapat kepercayaan dari publik/netizen.

Terbentuknya rezim kebenaran menurut pandangan dosen kelahiran Semarang ini dikarenakan hilangnya kepercayaan publik terhadap para kaum intelektual (ulama, ilmuwan, akademisi. Red) akibat hadirnya kesombongan intelektual. Interaksi dengan publik dibangun di atas kesombongan ini sehingga para intelektual mudah menyalahkan kebenaran yang diyakini orang lain. Semakin lama kesombongan ini mengikis kredibilitas mereka di mata publik dan menimbulkan distrust.
.
“Bukan berarti karena kita belajar filsafat sehingga kita kemudian bisa menyalahkan kebenaran orang lain. Untuk itu tantangan kita saat ini adalah bagaimana kita membangun kembali khazanah tradisi Islam sebagai sebuah struktur pengetahuan yang memproduksi subyek kebenaran yang dapat diterima oleh publik,” tutupnya.
 
Drakor yang dipandu oleh Dr. Ashadi, L.Diab ini mendapat respon paling tinggi di antara Drakor sebelumnya. Ketua LPPM IAIN Kendari Dr. Abdul Kadir, M.Pd menyebutkan, pendaftar pada drakor kali ini mencapai 1.400 orang pendaftar untuk aplikasi zoom, sedangkan pada link youtube disaksikan oleh lebih dari 2.000 ribu netizen dari seluruh Indonesia.
 
Program Drakor masih akan berlanjut pada hari kamis mendatang, 21 Mei 2020 dengan topik Ideologi dan Fungsi al-Qur’an di Indonesia: antara Informatif dan Performatif. Topik ini akan dibahas oleh Ahmad Rafiq, MA, Ph.D, Ketua Progra Studi Studi Islam Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Fahmi Gunawan, M.Hum, Dosen dan Peneliti Penerjeahan al-Qur’an IAIN Kendari. (liv/azwar)
 
 
 

 

Foto Publikasi

  • Lily Ulfia, SE 19-05-2020 (14:26:23)
  • Lily Ulfia, SE 19-05-2020 (14:26:40)

Related Post